
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) diperkirakan tetap solid pada 2026 ditopang oleh ekspansi jaringan ritel serta diversifikasi portofolio bisnis ke segmen baru.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jonathan Guyadi menilai ERAA berada di jalur yang tepat untuk mempercepat pertumbuhan bisnis pada periode 2026-2027.
Menurutnya, ekspansi tidak hanya dilakukan melalui penambahan gerai, tetapi juga lewat penetrasi ke segmen baru.
BEI Catat Nilai Transaksi SPPA Tahun 2025 Capai Rp 1.382 Triliun, Melonjak 461%
ERAA telah masuk ke pasar kendaraan listrik dengan menjadi agen tunggal merek XPENG di Indonesia sekaligus mengembangkan fasilitas perakitan di luar China.
Di sisi lain, pada segmen gaya hidup aktif, perusahaan menambah portofolio merek global seperti Wilson dan Under Armour untuk memperluas sumber pendapatan.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai kinerja ERAA berpotensi lebih stabil pada kuartal II-2026. Hal ini didorong oleh peningkatan permintaan pasca Lebaran serta momentum liburan sekolah.
Namun, ia mengingatkan adanya tekanan dari pelemahan rupiah akibat ketegangan geopolitik global yang berpotensi meningkatkan biaya impor produk.
“Diharapkan BI akan mengikuti langkah penurunan suku bunga acuan untuk meningkatkan permintaan cicilan konsumen karena gadget bisa dibeli dengan sistem kredit,” ujar Nafan kepada Kontan, Senin (13/4/2026).
IHSG Menguat 0,56% ke 7.500 pada Senin (13/4), BRPT, MEDC, EMTK Top Gainers LQ45
Dari sisi operasional, ERAA juga menghadapi tantangan kenaikan beban operasional (OPEX) seiring ekspansi bisnis yang agresif.
Meski demikian, Jonathan memperkirakan strategi ekspansi dan efisiensi akan menopang profitabilitas dalam jangka menengah.
Ia memproyeksikan laba bersih ERAA tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 18,4% pada periode 2025–2030, dengan estimasi mencapai sekitar Rp 2,7 triliun pada 2030.
Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan penjualan di segmen telepon seluler, perbaikan bauran bisnis, serta leverage operasional dari efisiensi biaya, termasuk optimalisasi gerai ritel.
Sebagai informasi, ERAA membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 17,35% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp76,61 triliun pada tahun 2025. Selain itu, laba bersih ERAA tumbuh 17,26% YoY menjadi Rp1,31 triliun pada 2025.
Jonathan memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp 800 per saham. Sementara itu, Nafan juga merekomendasikan buy dengan target harga Rp 446 per saham.