
Ifonti.com JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang menemui jalan buntu.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah tipis 1 poin ke level Rp 17.105 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/4).
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membayangi pasar keuangan.
Dari sisi eksternal, eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Hal ini diperparah oleh langkah militer AS yang memperketat aktivitas maritim di sekitar Iran, sehingga menambah ketidakpastian di pasar global.
Astra Kuasai 49% Pasar Otomotif Domestik, Tertekan Gempuran Mobil Listrik China
Selain itu, kenaikan inflasi di Amerika Serikat yang dipicu oleh lonjakan harga energi turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
“Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah,” ujar Ibrahim, Senin (13/4/2026).
Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif solid. Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2% pada tahun 2026, meskipun tetap dibayangi sejumlah risiko eksternal.
ADB juga menyoroti bahwa ketegangan geopolitik global dan volatilitas harga energi menjadi faktor utama yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi. Di samping itu, kebijakan moneter global yang masih ketat turut menjadi tantangan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.
BEI Catat Nilai Transaksi SPPA Tahun 2025 Capai Rp 1.382 Triliun, Melonjak 461%
Tekanan dari faktor eksternal tersebut berpotensi memicu volatilitas aliran modal di pasar keuangan domestik, terutama pada instrumen berdenominasi rupiah.
Untuk jangka pendek, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan cenderung fluktuatif dengan bias melemah, seiring belum meredanya sentimen global.
“Rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 17.100 hingga Rp 17.150 per dolar AS pada perdagangan besok,” kata Ibrahim.