
Ifonti.com – JAKARTA. Dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksadana tercatat menurun pada Maret 2026.
Data Infovesta menunjukkan total AUM reksadana turun 2,36% dari Rp 689,8 triliun pada Februari menjadi Rp 673,5 triliun pada Maret 2026.
Penurunan paling dalam terjadi pada reksadana pendapatan tetap yang terkoreksi sekitar 5,5% secara bulanan atau setara Rp 13 triliun, dari sebelumnya Rp 254,9 triliun menjadi Rp 241,2 triliun per Maret 2026.
Selain itu, reksadana berbasis saham seperti reksadana saham, campuran, dan indeks juga mengalami penurunan dana kelolaan.
Cek Rekomendasi Teknikal Saham BBCA, CPIN, dan PWON untuk Perdagangan Rabu (15/4)
Di sisi lain, reksadana pasar uang justru masih mencatatkan pertumbuhan, dari semula Rp 128,5 triliun pada Februari, lalu naik jadi Rp 135,1 triliun di Maret.
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPMA) Reza Fahmi Riawan, menilai penurunan AUM tersebut lebih mencerminkan pergeseran preferensi risiko investor ketimbang penurunan minat terhadap reksadana.
Menurutnya, di tengah kondisi global dan domestik yang masih dinamis, mulai dari volatilitas pasar saham hingga kenaikan yield obligasi pemerintah, investor cenderung menyesuaikan kembali komposisi portofolionya.
“Aset yang lebih sensitif terhadap volatilitas seperti reksadana saham, campuran, dan pendapatan tetap untuk sementara dikurangi, sementara instrumen yang lebih stabil dan likuid seperti reksadana pasar uang justru menjadi pilihan,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (14/4/2026).
Gejolak Pasar Menekan Dana Kelolaan Reksadana, RDPU Jadi Pelarian Investor
Ia menjelaskan, kenaikan yield obligasi turut memberikan tekanan pada harga, sehingga investor menjadi lebih berhati-hati, terutama dalam mengambil durasi pada reksadana pendapatan tetap.
Sementara itu, pada reksadana saham, volatilitas pasar mendorong sebagian investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) maupun penyesuaian alokasi.
“Jadi yang terjadi saat ini lebih ke arah penyesuaian strategi investasi, bukan keluar dari pasar,” tegasnya.
Kondisi serupa juga tercermin pada kinerja dana kelolaan Henan Putihrai Asset Management.
Ia menyebut pergerakan dana kelolaan di perusahaan tidak jauh berbeda dengan tren industri, di mana terjadi perpindahan dana antar jenis reksadana seiring fluktuasi pasar.
Menurutnya, dinamika tersebut merupakan hal yang wajar, karena investor menata kembali portofolio agar sesuai dengan profil risiko dan kondisi pasar terkini.
Manajer investasi pun tetap berfokus menjaga kualitas dan keberlanjutan portofolio, bukan sekadar mengejar pertumbuhan jangka pendek.
Ke depan, Reza melihat kondisi saat ini sebagai fase penyesuaian yang wajar dalam siklus pasar. Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut, seiring pelaku pasar menanti arah kebijakan suku bunga global dan stabilitas pasar.
Namun dalam jangka menengah hingga panjang, ia tetap optimistis terhadap prospek reksadana sebagai instrumen investasi yang relevan, terutama untuk kebutuhan diversifikasi dan pengelolaan aset yang terarah.
Dalam menghadapi kondisi ini, investor disarankan untuk tetap disiplin dalam strategi investasi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menjaga diversifikasi lintas produk dan strategi, berinvestasi secara bertahap, serta memanfaatkan reksadana pasar uang sebagai penyangga likuiditas.
“Terakhir, tetap berpegang pada horizon investasi agar tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi jangka pendek. Dengan pendekatan tersebut, investor diharapkan bisa tetap adaptif sekaligus tetap berada di jalur pertumbuhan yang diharapkan,” pungkasnya.