Sinyal Selat Hormuz dibuka: Harga minyak turun ke US$90,59

Sinyal Selat Hormuz dibuka, harga minyak turun ke US$90,59 pada awal perdagangan Kamis (16/4/2026), dipicu laporan bahwa Teheran berpotensi mengizinkan kapal melintas di Selat Hormuz. Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun 44 sen atau sekitar 0,5 persen menjadi US$94,49 per barel pada pukul 00.21 GMT (07.21 WIB).

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 70 sen atau 0,8 persen ke level US$90,59 per barel. Sehari sebelumnya, Rabu (15/4), Amerika Serikat menyampaikan optimisme terkait peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Meski begitu, Washington juga menegaskan akan memperketat tekanan ekonomi apabila Iran tetap bersikeras menolak.

Sinyal Selat Hormuz Dibuka: Harga Minyak Turun ke US$90,59 Harga Minyak Turun (ANTARA)  

Berdasarkan sumber Reuters, menyebutkan bahwa Teheran berpotensi mengizinkan kapal melintas secara bebas melalui sisi Oman di Selat Hormuz, asalkan tercapai kesepakatan untuk mencegah konflik dengan Amerika Serikat.

Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, menilai sinyal de-eskalasi mulai terlihat, namun pelaku pasar masih meragukan hasilnya. Pasalnya, negosiasi antara AS dan Iran sebelumnya kerap berujung buntu meskipun sempat menunjukkan perkembangan positif.

Baca juga:

  • Harga Minyak Turun di Tengah Sinyal Perpanjangan Gencatan Senjata Iran dan AS
  • Harga Minyak Turun Tipis di Tengah Upaya Perundingan Lanjutan AS dan Iran
  • Harga Minyak Turun, Rupiah Berpeluang Menguat Hari Ini

Ia memperkirakan harga minyak WTI akan terus bergerak fluktuatif di kisaran US$80 hingga US$100 per barel hingga ada kesepakatan damai dan jalur pelayaran di selat kembali normal. Sementara itu, pejabat dari kedua negara disebut tengah mempertimbangkan untuk melanjutkan perundingan di Pakistan paling cepat akhir pekan mendatang, setelah pembicaraan pada Minggu (12/4) tidak menghasilkan keputusan.

Kepala Angkatan Darat Pakistan yang berperan sebagai mediator juga telah tiba di Teheran pada Rabu (15/4). Di sisi lain, Amerika Serikat masih menerapkan blokade terhadap pengiriman dari pelabuhan Iran. Militer AS menyatakan langkah tersebut efektif menghentikan arus perdagangan laut keluar-masuk Iran.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, turut menegaskan bahwa Washington tidak akan memperpanjang kebijakan pengecualian yang sebelumnya memungkinkan sebagian pembelian minyak dari Iran dan Rusia tanpa terkena sanksi AS.

Apakah Selat Hormuz Sudah Dibuka?

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa blokade di Selat Hormuz akan dihentikan secara permanen demi kepentingan China dan dunia. Melalui unggahan di platform Truth Social pada Rabu (15/4), Trump mengungkapkan bahwa jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global tersebut akan dibuka secara permanen oleh AS.

Saat ini, Selat Hormuz berada dalam situasi blokade oleh Iran dan AS. Sejak Senin (13/4), Washington secara efektif menutup akses maritim menuju dan dari pelabuhan Iran setelah negosiasi damai di Pakistan pada Sabtu (11/4) mengalami kebuntuan.

“China sangat senang karena saya membuka Selat Hormuz secara permanen. Saya melakukannya untuk mereka dan untuk dunia. Situasi ini tidak akan pernah terjadi lagi,” kata Trump di Truth Social, yang diunggah kembali oleh akun X Gedung Putih.

Trump menambahkan bahwa keputusan membuka blokade Selat Hormuz diambil setelah China disebut sepakat tidak akan mengirim senjata ke Iran. Ia juga menyinggung adanya laporan terbaru yang menyebut Beijing sempat diduga membantu Teheran dalam konflik melawan AS dan Israel melalui teknologi persenjataan, meski klaim tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari pemerintah China

Mengutip The Independent, seorang pejabat tinggi pemerintah AS menyatakan bahwa meskipun Trump telah mengumumkan rencana pembukaan Selat Hormuz, pada kenyataannya jalur strategis tersebut masih belum dibuka.

Ia menegaskan bahwa blokade tetap diberlakukan secara penuh dan berjalan efektif. Bahkan, berdasarkan laporan CENTCOM sebelumnya, tidak ada satu pun kapal yang berhasil melintasi jalur tersebut, sehingga aktivitas pelayaran dari dan menuju Iran otomatis terhenti.

Adanya sinyal Selat Hormuz dibuka, harga minyak turun ke US$90,59, mencerminkan respons pasar terhadap potensi meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Meski adanya peluang pembukaan jalur pelayaran yang menurunkan harga minyak, ketidakpastian hasil negosiasi masih membuat pergerakan harga minyak cenderung fluktuatif.