
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik geopolitik Timur Tengah turut memengaruhi industri barang mewah.
Laporan Global Luxury Industry Outlook 2026 dari firma konsultan global Kearney menyatakan pertumbuhan industri barang mewah pada 2026 hanya berada di kisaran 2%–4%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan sejumlah proyeksi eksternal yang memperkirakan pertumbuhan 3%–5%.
Budi Frensidy, Guru Besar FEB Universitas Indonesia, menilai hanya sebagian kecil barang mewah yang layak dijadikan instrumen investasi.
“Saya pikir hanya sebagian kecil yang bisa jadi investasi terutama yang langka & high demand tapi mayoritas tetap konsumsi dengan nilai emosional,” kata Budi kepada Kontan, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, narasi investasi baru relevan jika investor memahami pasar dan berada dalam komunitasnya.
Dari sisi kinerja, Budi memandang aset barang mewah dinilai belum konsisten dibanding instrumen lain seperti saham maupun emas.
Outlook 2026 Moderat, Kolektor Mulai Tahan Belanja Barang Mewah
“Tetapi ada item tertentu (misalnya jam langka atau tas edisi terbatas) yang outperform S&P 500 atau emas, namun itu jarang,” ujar Budi.
Dari sisi likuiditas, barang mewah tergolong sulit dicairkan dalam waktu singkat yang menjadi risiko utama dalam investasi barang koleksi.
Selain itu, valuasi yang tidak transparan membuat harga sulit ditentukan secara objektif.
Budi menyarankan agar alokasi dana pada aset ini dibatasi, maksimal sekitar 5%–10% dari total portofolio.
Tren Belanja Barang Mewah Melambat pada 2026, Pertumbuhan Bergeser ke Asia Tenggara
Ia menilai porsi yang terlalu besar berisiko karena tidak menghasilkan arus kas.
Untuk meminimalkan risiko, investor perlu memastikan keaslian barang dengan membeli dari authorized dealer atau reputable reseller, minta certificate of authenticity dan invoice.
Budi memperkirakan penjualan aset mewah pada kuartal II-2026 akan menurun.
Dengan berbagai karakteristik tersebut, barang mewah sebaiknya tidak dijadikan investasi utama.
Investasi Barang Mewah Menarik, Simak Saran Perencana Keuangan