Sentimen negatif hantui IHSG, bursa diperkirakan melemah

Ifonti.com – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan Senin pagi menguat 29,02 poin atau 0,41 persen ke posisi 7.158,51. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari, dalam analisanya di Jakarta, Senin (27/4/2026), menilai pergerakan IHSG dalam jangka pendek cenderung bergerak campuran (mixed) dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah.

Tekanan dipicu oleh sentimen global yang didominasi aksi risk-off serta pelemahan nilai tukar rupiah yang mendorong potensi arus keluar modal asing. Secara teknikal, setelah penutupan akhir pekan kemarin, Jumat (24/4/2026), di level 7.129, indeks saat ini berada di area oversold usai menutup gap pada kisaran 7.308-7.346.

Kondisi ini membuka peluang technical rebound jangka pendek, meski ruang penguatannya terbatas.

“Fokus pasar kini tertuju pada pengujian support krusial di rentang 7.100-7.150. Apabila level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menutup gap berikutnya di area 7.022-7.080 hingga menguji support psikologis di sekitar 6.917,” ujar Brigita.

Dari sisi global, belum tercapainya kesepakatan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memperpanjang ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi.

Tanpa adanya deeskalasi, pasar mulai mengantisipasi potensi pengetatan suplai energi global yang dapat menjaga harga tetap tinggi. Kondisi ini berisiko menahan penurunan inflasi global serta membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek.

Selain itu, Brigita menerangkan ekspektasi terhadap arah kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve) kembali bergeser lebih hawkish seiring risiko inflasi berbasis energi yang masih tinggi.

Secara keseluruhan, kondisi global mendorong investor mengadopsi sikap risk-off, dengan potensi peralihan dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi sebagai instrumen lindung nilai.

Sementara dari sisi domestik, dua katalis utama yang memengaruhi pasar adalah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi serta tekanan signifikan pada nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh rekor terlemah di kisaran Rp 17.315 per dolar AS.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Dex Series sejak 18 April, dinilai mencerminkan respons terhadap harga energi global yang masih tinggi sekaligus menjaga kredibilitas fiskal.

Namun demikian, pasar mulai mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi jangka pendek, terutama pada sektor transportasi dan logistik, yang berpotensi menekan daya beli masyarakat serta margin sektor berbasis konsumsi.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah mendorong Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat bauran kebijakan stabilisasi. Dalam Rapat Dewan Gubernur 22–23 April 2026, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.

“Kebijakan ini diiringi dengan intervensi di pasar valas serta optimalisasi instrumen moneter guna meredam volatilitas. Meski demikian, pelemahan rupiah tetap meningkatkan risiko imported inflation dan memperbesar potensi capital outflow, khususnya dari pasar obligasi,” kata Brigita.

Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). – (Republika/Prayogi)

Ia menambahkan, kombinasi penyesuaian harga energi dan kebijakan moneter yang cenderung ketat menunjukkan sikap otoritas yang defensif dan pre-emptive dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

Meski demikian, pasar diperkirakan masih bergerak hati-hati dalam jangka pendek seiring meningkatnya sensitivitas terhadap risiko inflasi dan stabilitas eksternal.

“Ke depan, efektivitas respons kebijakan, terutama dalam menahan volatilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan, akan menjadi kunci dalam menentukan arah sentimen pasar domestik serta keberlanjutan aliran dana asing,” ujarnya.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak mendatar selama perdagangan pekan ini (27-30 April 2026), dengan sentimen utama berasal dari tingkat global.

Ratna mengatakan pelaku pasar selama pekan ini akan mencermati arah kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara maju, di antaranya bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve, European Central Bank (ECB), Bank of England (BoE), hingga Bank of Japan (BoJ).

“Diperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis di 7.000 pada pekan ini,” ujar Ratna dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Selama pekan ini, pelaku pasar akan menantikan pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting The Federal Reserve pada Kamis (29/4/2026), yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5-3,75 persen.

Kemudian, pelaku pasar juga menantikan pertemuan ECB dan BoE yang masing-masing diproyeksikan akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 2,15 persen dan 3,75 persen.

Selain itu, pelaku pasar akan mencermati pertemuan Bank of Japan (BoJ) pada Selasa (28/4/2026), yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan tetap di level 0,75 persen meskipun data inflasi di Jepang meningkat.