
Ifonti.com – JAKARTA. Prospek kinerja PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dinilai masih menjanjikan di tengah volatilitas harga minyak global.
Kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) serta pertumbuhan produksi menjadi penopang utama kinerja emiten energi ini pada 2026.
Analis Bahana Sekuritas, Abdusshomad Cakra Buana, menyebut keseimbangan pasar minyak global diperkirakan akan semakin mengetat dan berpotensi mendorong harga minyak Brent ke level US$ 85 per barel.
Pengetatan ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Harga Minyak Melonjak Gila-gilaan: UEA Cabut dari OPEC, Selat Hormuz Terkunci
Ia memperkirakan, kelebihan pasokan minyak sebelum konflik yang berada di kisaran 2,8 juta sampai 3,7 juta barel setara minyak per hari (mmboepd) dapat menyusut tajam menjadi sekitar 0,9 mmboepd atau turun 71%–77%.
Penyempitan pasokan ini terutama disebabkan oleh penghentian produksi di kawasan Teluk yang mencapai sekitar 9,7 mmboepd atau setara dengan 36% dari total produksi negara-negara OPEC.
“Meskipun pemulihan produksi mungkin mulai terjadi pada Mei, kami memperkirakan normalisasi akan berlangsung bertahap dan baru mencapai sekitar 90%-95% dari level sebelum konflik pada kuartal IV-2026 sehingga pasokan tetap terbatas secara struktural sepanjang 2026,” terang Abdusshomad dalam riset, 13 April 2026.
Analis KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai eksposur Medco terhadap harga minyak mentah justru menjadi katalis positif di tengah tren harga yang masih relatif tinggi.
Harga Minyak Ditutup Melemah, Investor Mempertimbangkan Potensi Kelebihan Pasokan
Sekitar separuh lifting Medco bergantung pada pergerakan harga minyak, sehingga kenaikan ASP akan berdampak langsung terhadap pendapatan dan margin.
“Prospeknya masih positif. Kenaikan ASP akan langsung mengangkat revenue dan margin. Ditambah kontribusi dari Blok Koridor, Oman, Natuna, serta Senoro-Toili Fase 2, ini memberikan kombinasi pertumbuhan volume dan leverage harga,” ujar Wafi kepada Kontan, Rabu (6/5/2026).
MEDC Chart by TradingView
Di sisi lain, Equity Research Analyst Ajaib Sekuritas, Rizal Rafly ,mencermati MEDC terus menjalankan strategi pertumbuhan yang seimbang di sektor minyak & gas, listrik, dan pertambangan.
Di segmen ketenagalistrikan, ekspansi energi terbarukan menjadi sorotan utama, termasuk pengoperasian pembangkit panas bumi (35 MW) dan PLTS Bali (25 MW), serta ekspans proyek gas-to-power ELB (dari 70 MW menjadi 109 MW).
Secara regional, MEDC juga memperluas operasional melalui operator PSC di Malaysia, dengan produksi sekitar 7.000 barel per hari dengan tetap menjaga disiplin strategi akuisisi yang menyasar aset undervalued dengan periode pengembalian cepat sekitar 2-3 tahun dan peningkatan nilai melalui efisiensi operasional.
Harga Minyak Melonjak, Pasar Saham Goyah Saat Gencatan Senjata Iran Terancam
“Belanja modal dipertahankan di kisaran US$ 400-430 juta, dirinci US$ 415 juta untuk O&G dan US$ 15 juta untuk listrik, dengan fokus pada proyek berimbal hasil tinggi dan menjaga disiplin keuangan,” ujar Rizal dalam riset 10 April 2026.
Dari sisi katalis, Wafi melihat beberapa faktor positif yang dapat menopang kinerja MEDC. Pertama, harga minyak yang masih berada pada level tinggi (elevated).
Kedua, peningkatan produksi dari aset yang sudah beroperasi maupun pengembangan lapangan baru. Ketiga, potensi efisiensi biaya serta perbaikan struktur keuangan melalui deleveraging.
Melihat rekam jejak Medco yang mengandalkan akuisisi untuk mendorong pertumbuhan lifting, Abdusshomad pun menilai MEDC memiliki kapasitas untuk kembali melakukan ekspansi pada 2027/2028.
Berdasarkan uji sensitivitas dengan asumsi aset setara Blok Corridor, harga Brent siklus menengah US$ 65 per barel, serta struktur pembiayaan 60% utang dan 40% kas, Medco diperkirakan mampu menyerap akuisisi hingga US$ 1,15 miliar – US$ 1,25 miliar tanpa melampaui batas leverage.
Selain itu, likuiditas tambahan dapat diperoleh jika Medco melepas sebagian kepemilikan di AMMN. “Kami memperkirakan setiap penjualan 1% saham AMMN dapat menghasilkan dana sekitar US$ 192 juta,” tambah Abdusshomad.
Untuk 2026, manajemen menargetkan produksi minyak & gas di kisaran 165-170 mboepd serta penjualan listrik sekitar 4.500 GWh. Rizal menyebut target ini berpotensi menjadi rekor baru, didukung kontribusi penuh Corridor peningkatan produksi Senoro, serta program pengeboran lanjutan di Oman dan Suban.
Namun demikian, investor juga perlu mencermati sejumlah risiko. Wafi menilai volatilitas harga minyak global masih menjadi tantangan utama, yang dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan kebijakan OPEC. Selain itu, risiko transisi energi dalam jangka panjang serta potensi kenaikan biaya operasional juga dapat menekan kinerja perusahaan.
Menanti Jurus Pemerintah Efisiensi Energi di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia
Menilik laporan keuangan, MEDC membukukan laba bersih senilai US$ 67,38 juta pada kuartal I-2026. Perolehan tersebut melonjak 282,34% yoy dibandingkan US$ 17,62 juta pada periode yang sama 2025.
Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan pendapatan yang naik sekitar 19% menjadi US$ 668,3 juta, dari US$ 560,4 juta.
Rizal memproyeksi kinerja keuangan MEDC tahun ini naik. Dari sisi profitabilitas, laba bersih MEDC diperkirakan melonjak tajam 300% yoy menjadi US$ 404 juta pada 2026, dibandingkan US$ 101 juta pada 2025.
Pendapatan MEDC pada 2026 diperkirakan mencapai US$ 2,73 miliar, meningkat 13,7% yoy dari realisasi 2025 yang sebesar US$ 2,39 miliar.
Dengan berbagai faktor tersebut, Wafi merekomendasikan buy saham MEDC dengan target harga di level Rp 2.000 per saham.
Menakar Peluang Cuan Saham Migas di 2026 di Tengah Normalisasi Harga Minyak Dunia
Kemudian Rizal dan Abdusshomad juga sama-sama memberi rekomendasi buy saham MEDC dengan target masing-masing Rp 2.000 dan Rp 2.200 per saham.