Indeks utama BEI masih merah, ini penyebab dan peluang rebound pada 2026

Ifonti.com JAKARTA. Kinerja tiga indeks utama di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih merah sejak awal tahun 2026.

Terhitung sejak 4 Mei 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memberlakukan hasil rebalancing terbaru konstituen tiga indeks utama, yakni IDX LQ45, IDX30, dan IDX80.

Namun, sejak dua hari penerapan hasil rebalancing, kinerja tiga indeks utama di BEI ini masih terperosok sejak awal tahun ini.

IDX LQ45 turun 19,35% year to date (YTD), IDX30 turun 12,92% YTD, dan IDX80 turun 18,95% YTD. Sebagai perbandingan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 17,98% YTD.

Analis Phillip Sekuritas Helen Vincentia melihat, emiten laggard di LQ45 secara year to date adalah DSSA, BBCA, BREN, TLKM, dan BRPT.

Sedangkan, emiten leaders adalah MDKA, ADRO, ANTM, AADI, dan PTBA.

Cek Rekomendasi Teknikal Saham ASII, TOWR, dan CPIN, Perdagangan Kamis (7/5)

“Beberapa faktor yang menjadi penekan sektor antara lain adalah dinamika evaluasi dari MSCI, koreksi bursa global seiring dengan perang di Timur Tengah, naiknya harga komoditas, dan pelemahan nilai tukar rupiah,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto melihat, pelemahan ini memang dipengaruhi koreksi tajam di sejumlah big caps dan saham konglomerasi yang sebelumnya menjadi motor reli di sepanjang 2025 hingga awal 2026.

Sentimen negatif pergerakan indeks utama masih terkait status pasar Indonesia di MSCI, aliran keluar asing yang besar, dan pelemahan rupiah.

“Hal itu membuat saham-saham yang menjadi konstituen utama indeks, khususnya emiten bank dan beberapa emiten konglomerasi, menjadi sasaran jual utama sejak awal tahun,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).

Edwin Sebayang, Pengamat Pasar Modal sekaligus Direktur PT Purwanto Asset Management, melihat struktur ketiga indeks utama tidak sama dengan struktur market rally.

Masalah utamanya bukan sekadar rebalancing, tapi ada ketidakcocokan antara komposisi indeks dengan pemimpin pasar secara keseluruhan di tahun 2026.

“Indeks LQ45, IDX30, dan IDX80 didominasi big caps, seperti bank, telco, dan commodity cyclicals. Sementara IHSG lebih “terbantu” oleh second liner dan thematic plays seperti new economy dan speculative rotation,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).

IHSG Berpotensi Bergerak Terbatas pada Kamis (7/5), Ini Rekomendasi Sahamnya

Ke depan, Helen bilang, pelaku pasar masih akan memperhatikan keputusan MSCI mengenai indeks saham Indonesia, pembagian dividen, rilis kinerja keuangan, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Perang yang sampai saat ini masih berlanjut, apakah kesepakatan damai dapat tercapai,” ungkapnya.

Edwin melihat, kinerja emiten indeks utama bisa memulih, tetapi kenaikannya tak akan agresif. IDX LQ45 target optimistis kinerjanya bisa ke area sekitar 930.

“Namun, volatilitas masih tetap tinggi dan kenaikan tidak merata,” ungkapnya.

Sentimen positif berasal dari potensi penurunan suku bunga global, stabilitas makroekonomi Indonesia, valuasi saham blue chip yang sudah murah, musim pembagian dividen, dan reformasi pasar saham Indonesia.

Sementara, sentimen negatifnya adalah penahanan suku bunga di level tinggi, penurunan kinerja komoditas, konflik geopolitik, dan volatilitas rupiah.

Edwin melihat, sektor penopang berasal dari perbankan (BBCA, BMRI, dan BBRI), infrastruktur dan digital (TOWR), energi dan komoditas (MDKA dan AMMN), consumer (ICBP dan AMRT), serta saham pendatang baru pasca rebalancing (CUAN dan ESSA).

Pergerakan IHSG Dipengaruhi Data PDB Nasional, Berikut Catatan Analis

“Strategi optimal untuk investor adalah overweight pada big banks, tambah saham cyclical secara bertahap, lalu gunakan saham pasca rebalancing hanya untuk tactical trade,” ungkapnya.

Tak jauh berbeda, Rully menambahkan, prospek indeks-indeks utama ini bisa membaik sepanjang 2026, tetapi dengan jalur yang masih volatile.

“Di sisi positif, penyesuaian kriteria indeks, seperti minimum free float, likuiditas, dan pengecualian saham high shareholding concentration (HSC) akan membuat kinerja LQ45, IDX30, dan IDX80 ke depan bisa lebih merefleksikan saham-saham yang benar-benar investable,” katanya.

Sektor komoditas metal dan tambang, telco, serta consumer akan menjadi penggerak utama di sepanjang tahun 2026.

Rully pun merekomendasikan beli untuk DEWA, BRMS, JPFA, dan CMRY dengan target harga masing-masing Rp 800 per saham, Rp 1.100 per saham, Rp 3.750 per saham, dan Rp 7.100 per saham.