
Ifonti.com JAKARTA. Setelah sempat menguat selama dua hari beruntun, kurs rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (8/5/2026).
Mengacu data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.382 per dolar AS atau melemah 0,29% dibanding posisi sehari sebelumnya di Rp 17.333 per dolar AS. Secara mingguan, rupiah tercatat terkoreksi 0,27%.
Kinerja Siloam International (SILO) Dinilai Solid, Cermati Rekomendasi Analis
Pelemahan serupa juga terjadi pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di level Rp 17.375 per dolar AS, turun 0,07% dibanding posisi sebelumnya Rp 17.362 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap lonjakan biaya impor energi di tengah kenaikan harga minyak dunia.
Selain itu, pasar juga masih mencermati isu fiskal dan tata kelola yang dinilai memengaruhi daya tarik aset domestik.
Mata uang Asia secara umum juga melemah setelah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dan menekan minat investor terhadap aset berisiko.
SBN Ritel ST016 Mulai Ditawarkan Hari Ini (8/5), Tawarkan Kupon Hingga 6,25%
Harga minyak mentah dunia naik sekitar 1% pada perdagangan Jumat, memperbesar tekanan terhadap mata uang negara-negara Asia pengimpor energi, termasuk Indonesia.
Kenaikan harga energi turut memicu lonjakan inflasi di sejumlah negara Asia Tenggara. Inflasi di Korea Selatan, Thailand, dan Filipina pada April 2026 tercatat mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Melansir Reuters, DBS dalam risetnya menyebut tingginya harga energi mulai berdampak pada ekonomi riil dan memicu kejutan inflasi di sejumlah negara ASEAN.
Di kawasan Asia, peso Filipina melemah ke level 60,508 per dolar AS dan menjadi salah satu mata uang dengan tekanan terbesar. Mata uang tersebut telah melemah hampir 5% sejak perang Iran pecah pada akhir Februari lalu.
Rupiah Spot Melemah 0,32% ke Rp 17.388 per Dolar AS pada Jumat (8/5) Siang
Sementara itu, ringgit Malaysia turun 0,2% ke posisi 3,9160 per dolar AS, meski secara tahunan masih menguat sekitar 3,6%.
Di sisi lain, indeks dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama turun 0,14% ke level 98,195. Namun posisi tersebut masih berada di atas titik terendah pekan ini di level 97,623, yang merupakan level terendah sejak 27 Februari 2026.
Sebelumnya, investor sempat memburu dolar AS sebagai aset safe haven dan melepas mata uang negara-negara pengimpor minyak seperti Jepang dan kawasan euro setelah harga minyak melonjak akibat terganggunya arus pelayaran di Selat Hormuz.