Bond Stabilization Fund aktif lagi, pasar SBN stabil tapi tak cukup tahan global

Ifonti.com JAKARTA. Pemerintah berencana mengaktifkan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga stabilitas pasar obligasi domestik di tengah tingginya volatilitas global dan tekanan pada nilai tukar rupiah.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan instrumen ini disiapkan sebagai dana stabilisasi yang dapat digunakan untuk melakukan pembelian kembali (buyback) Surat Berharga Negara (SBN) ketika yield mengalami kenaikan terlalu tajam.

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai langkah pemerintah tersebut cukup positif untuk meredam kenaikan yield SBN dalam jangka pendek.

Sentuh Rekor Terlemah, Ini Proyeksi Pergerakan Rupiah di Pekan Depan

Meski demikian, ia menilai efektivitas BSF tetap terbatas apabila tekanan pasar lebih banyak berasal dari faktor eksternal seperti tingginya suku bunga Amerika Serikat (AS), arus keluar modal asing (capital outflow), dan pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.400 per dolar AS.

“Jadi BSF lebih berfungsi sebagai penahan volatilitas sementara, bukan solusi permanen,” kata Rizal kepada Kontan, Kamis (7/5/2026) malam.

Rizal melihat menurunnya yield SBN tenor 10 tahun dari level hampir mendekati 7% pada Maret-April 2026 dan kini mulai melandai ke 6,7%. Sementara tenor 5 tahun tercatat 6,9% dan tenor 3 tahun sebesar 6,5%. Kondisi ini disebut menunjukkan pasar obligasi mulai bergerak lebih stabil.

Namun, hingga akhir 2026, ia memperkirakan yield SBN masih akan bergerak fluktuatif karena dipengaruhi berbagai sentimen global dan domestik.

Beberapa faktor yang dinilai perlu dicermati investor antara lain arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed, pergerakan harga minyak dunia, kondisi fiskal pemerintah, hingga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Jika tekanan global kembali meningkat, yield bisa kembali naik mendekati 7%,” imbuhnya.

Di sisi lain, Rizal menilai level yield tinggi saat ini justru dapat membuka peluang investasi yang menarik di pasar obligasi.

Menurutnya, kenaikan yield memang membuat harga obligasi turun dalam jangka pendek sehingga menekan nilai portofolio investor lama. Namun bagi investor baru, kondisi tersebut dapat menjadi momentum masuk karena menawarkan potensi imbal hasil yang lebih menarik.

Indosat (ISAT) Tebar Dividen Rp 3,57 Triliun dengan Yield 5% Simak Jadwal Lengkapnya!

Rizal mengatakan, di momentum seperti ini investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang dinilai dapat mulai melakukan akumulasi secara bertahap, terutama pada obligasi tenor menengah.

Meski begitu, Rizal tetap mengingatkan investor untuk mencermati risiko volatilitas global dan pergerakan rupiah sebelum mengambil keputusan investasi.

“Investor dengan horizon menengah-panjang justru bisa mulai masuk secara bertahap saat yield tinggi, terutama pada tenor menengah, sambil tetap memperhatikan risiko volatilitas global dan rupiah,” pungkasnya.