Cek target baru harga saham EXCL usai merger XL Axiata-Smartfren

Ifonti.com , JAKARTA — UOB Kay Hian Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) dan menaikkan target harga menjadi Rp3.600 per saham dari sebelumnya Rp3.500 seiring dengan meningkatnya realisasi sinergi hasil merger.

Adapun merger XL Axiata (EXCL) dan Smartfren (FREN) resmi disahkan pada 15-16 April 2025, membentuk entitas baru bernama PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk.

Analis UOB Kay Hian Sekuritas Willinoy Sitorus memperkirakan kinerja EXCL dibayangi potensi kerugian hingga 2026 akibat beban depresiasi besar pasca merger. Meski demikian, sejumlah analis justru melihat kondisi tersebut sebagai peluang akumulasi karena fundamental perseroan dinilai mulai membaik.

: Beda Nasib Buah Merger Raksasa Telko: ISAT Cuan Jumbo, EXCL Tertekan

Dia memproyeksikan EXCL masih akan mencatat rugi bersih sepanjang 2026 lantaran perusahaan masih menanggung beban depresiasi dipercepat senilai Rp5 triliun hingga Rp6 triliun.

Beban tersebut berasal dari proses integrasi pasca merger, termasuk konsolidasi menara atau site, penghentian aset lama, penyesuaian tenaga kerja, hingga integrasi jaringan. Sebelumnya pada 2025, EXCL telah membukukan beban satu kali setelah pajak sebesar Rp7,4 triliun terkait proses restrukturisasi dan integrasi tersebut.

: : Pascamerger, XLSmart (EXCL) Genjot Ekspansi 5G

Meski masih berat di sisi akuntansi, biaya integrasi diperkirakan mulai turun signifikan tahun ini menjadi sekitar Rp500 miliar. Penurunan terjadi karena sekitar 70%-80% biaya integrasi merger sudah dibukukan pada periode sebelumnya.

Tekanan depresiasi tinggi masih akan berlangsung hingga kuartal III/2026. Namun memasuki kuartal IV/2026, kinerja EXCL diproyeksikan mulai bersih dari dampak depresiasi dipercepat.

: : XLSmart (EXCL) Catat Pendapatan Rp11,84 Triliun pada Kuartal I/2026, Tumbuh 38%

“Meski masih mencatat rugi secara akuntansi, laba inti perusahaan diperkirakan tetap membaik seiring kenaikan pendapatan rata-rata per pengguna atau ARPU dan meningkatnya realisasi sinergi hasil merger,” ujarnya dalam riset yang dikutip, Selasa (18/5/2026).

Willinoy juga melihat EXCL berpotensi mengikuti jejak PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk. (ISAT) yang mengalami lonjakan valuasi pasca merger.

Sebagai gambaran, saham ISAT mulai mengalami rerating signifikan ketika margin EBITDA naik dari 40,3% pada kuartal I/2022 menjadi 44,1% pada kuartal IV/2022 seiring keberhasilan eksekusi sinergi dan membaiknya prospek bisnis.

Manajemen EXCL juga mempertahankan target kinerja 2026 dengan pertumbuhan pendapatan di kisaran menengah hingga tinggi satu digit, sementara pertumbuhan EBITDA diperkirakan mencapai dua kali laju pertumbuhan pendapatan.

Selain itu, perseroan membidik sinergi merger sebesar US$250 juta hingga US$300 juta.

“UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli [BUY] untuk saham EXCL dengan menaikkan target harga menjadi Rp3.600 dari sebelumnya Rp3.500,” tulisnya.

Saat ini saham EXCL diperdagangkan pada valuasi EV/EBITDA 2026 sebesar 5,3 kali, atau sekitar satu standar deviasi di bawah rata-rata historis pasca merger. Kondisi itu dinilai membuka ruang kenaikan valuasi apabila sinergi merger berjalan sesuai rencana.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, mulai dari pemulihan ARPU yang lebih lambat, perubahan regulasi industri telekomunikasi, proses merger yang berkepanjangan, hingga potensi tekanan harga saham akibat EXCL masih diproyeksikan merugi hingga sembilan bulan pertama 2026.

Namun bagi investor jangka menengah, UOB Kay Hian menilai pelemahan saham EXCL justru dapat menjadi peluang beli dalam horizon investasi 6 hingga 12 bulan.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.