
Ifonti.com JAKARTA. Emiten penambang emas mencatat kinerja yang beragam pada kuartal I – 2026. Volatilitas harga, risiko produksi hingga risiko kebijakan domestik menjadi sejumlah faktor yang menentukan kinerja sektor emas ke depan.
Muhammad Thoriq Fadilla, Research Analyst Bumiputera Sekuritas mengatakan, tantangan utama sektor emas adalah volatilitas harga emas global. Walaupun harga emas masih tinggi, tekanan dari penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi AS, dan ekspektasi The Fed yang tidak segera memangkas suku bunga dapat menekan harga emas dalam jangka pendek.
Reuters mencatat pasar bahkan mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed menjelang akhir tahun, sementara suku bunga tinggi biasanya menjadi tekanan bagi emas karena emas tidak memberikan yield.
IHSG Diproyeksikan Menguat di Perdagangan Senin (24/5), Ini Saham Rekomendasi Analis
“Tantangan kedua adalah risiko produksi dan biaya operasional. Kenaikan harga emas tidak otomatis mengangkat laba apabila volume produksi turun, kadar bijih melemah, terjadi gangguan cuaca, atau biaya bahan bakar dan kontraktor naik,” ujar Thoriq kepada Kontan, Jumat (22/5/2026).
Thoriq mencontohkan, kasus PT Bumi Resources Minerals (BRMS) memperlihatkan bahwa harga jual emas naik tajam, tetapi volume penjualan emas kuartal I-2026 turun lebih dari 30% secara year on year (YoY).
Tantangan ketiga adalah risiko kebijakan domestik. Pemerintah Indonesia sedang mendorong kebijakan kontrol lebih besar atas ekspor komoditas, termasuk rencana sentralisasi ekspor komoditas tertentu serta kewajiban penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam di bank BUMN mulai 1 Juni 2026.
Kebijakan ini dapat mendukung stabilitas rupiah, tetapi dalam jangka pendek berpotensi menambah ketidakpastian bagi eksportir, terutama dari sisi mekanisme harga, administrasi, dan fleksibilitas pengelolaan kas valas.
Tantangan keempat adalah valuasi saham. Beberapa saham emas telah mengalami kenaikan signifikan sehingga valuasinya menjadi lebih sensitif terhadap koreksi harga emas. Contohnya, BRMS diperdagangkan dengan PER yang tinggi, sementara PT Merdeka Gold Resources (EMAS) masih berada pada fase awal produksi dan masih memiliki risiko eksekusi ramp-up.
Thoriq menjelaskan, sentimen utama yang perlu diperhatikan adalah arah harga emas global, terutama terkait konflik geopolitik, ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, dan yield US Treasury. Selama ketegangan Timur Tengah, risiko inflasi energi, dan ketidakpastian global masih tinggi, emas masih mendapat dukungan sebagai aset safe haven.
“Namun, jika dolar AS terus menguat dan ekspektasi pemangkasan suku bunga semakin mundur, harga emas berpotensi mengalami koreksi lanjutan,” terang Thoriq.
Cakra Buana (CBRE) Bakal Rights Issue, Andry Hakim dan Gabriel Rey Jadi Standby Buyer
Sentimen berikutnya adalah permintaan bank sentral dan investor Asia. World Gold Council mencatat bank sentral membeli 244 ton emas pada kuartal I-2026, naik 17% secara kuartalan, dengan pembelian tetap kuat di tengah ketidakpastian geopolitik. Permintaan emas berbentuk bar dan coin juga naik 42% YoY menjadi 474 ton, menunjukkan minat investor terhadap emas fisik masih kuat.
Adapun, dari domestik, sentimen rupiah juga penting. JISDOR BI pada 22 Mei 2026 berada di Rp 17.717 per dolar AS. Pelemahan rupiah dapat mengangkat harga emas dalam rupiah dan mendukung pendapatan emiten yang memiliki harga jual berbasis dolar atau mengikuti harga emas global.
“Selain itu, kenaikan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25% pada Mei 2026 juga perlu diperhatikan. Kebijakan ini positif untuk stabilitas rupiah, tetapi dari sisi pasar saham dapat menekan valuasi sektor berisiko tinggi jika yield domestik ikut naik,” ucap Thoriq.
Adrian Djie, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia mengatakan, prospek kinerja emiten sektor emas hingga akhir semester I – 2026 diperkirakan masih relatif solid dengan potensi pertumbuhan laba yang tetap positif. Hal ini didukung oleh harga emas global yang bertahan pada level tinggi seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian global serta berlanjutnya akumulasi cadangan emas oleh bank sentral.
“Kondisi tersebut berpotensi menjaga emas pada level yang menarik dan mendukung profitabilitas emiten sektor emas,” kata Adrian.
Pilah-Pilih Saham Emiten Pemilik Tambang Emas untuk Senin (25/5), Ini Paling Favorit
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi juga melihat prospek positif sentimen sektor emas karena harga emas masih tinggi, permintaan domestik juga naik di kuartal I – 2026. Selain itu, harga jual rata-rata (ASP) dan margin emiten di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Terkait rekomendasi, Thoriq merekomendasikan buy saham ANTM di area 3.100 – 3.120 dengan target harga Rp 3.300 per saham dan stoploss jika ke level 2.880. Ia juga merekomendasikan buy saham BRMS di area 630-635 dengan target harga Rp 700 per saham dan stoploss jika ke level 505.
Wafi merekomendasikan buy saham ANTM dengan target harga Rp 4.250 per saham, buy saham BRMS dengan target harga Rp 820 per saham, buy saham ARCI dengan target harga Rp 1.550 per saham, dan wait and see saham MDKA.
Sementara Adrian melihat ANTM sebagai salah satu emiten yang menarik untuk diperhatikan. Saham ini memiliki potensi menuju target terdekat di area Rp 3.280 per saham.