
Ifonti.com JAKARTA. Kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai kendaraan pemerintah untuk memberlakukan kebijakan satu pintu ekspor komoditas menimbulkan ketidakpastian dan berimbas menekan kinerja emiten terkait.
Muhammad Fatah Al Falah, Retail Analyst RHB Sekuritas Indonesia menyebut pasar masih cenderung wait and see meski regulasi telah diterbitkan. Investor masih mencermati implementasi kebijakan tersebut.
Menurutnya, pasar umumnya merespons negatif terhadap ketidakpastian. Pelaku pasar masih menunggu dampak kebijakan terhadap arus dana alias money flow eksportir.
“Pasar mengkhawatirkan bahwa fungsi institusi pengelola ekspor yang seharusnya hanya sebagai verifikator berisiko berubah peran menjadi trader atau pelaku pasar,” ujarnya, Sabtu (23/5).
Pelaku pasar juga mencermati potensi perluasan komoditas yang diatur. Saat ini kebijakan berfokus pada batubara dan CPO. Namun, terdapat peluang komoditas lain seperti nikel, tembaga, bauksit, timah, dan LNG masuk dalam skema tersebut pada masa mendatang.
Harga CPO Berpeluang Rebound, Ini Faktor Pendorongnya
Sorotan dari S&P Global Ratings dan Moody’s turut membuat investor asing lebih berhati-hati terhadap kebijakan ekspor satu pintu. Menurutnya, investor mencermati potensi berkurangnya fleksibilitas eksportir serta meningkatnya intervensi pemerintah.
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina menambahkan, praktik semacam ini sebenarnya sudah dilakukan di beberapa negara. Misalnya, di China ada China Rare Earth Group yang mengatur ekspor logam tanah jarang.
Kemudian pemerintah Arab Saudi punya Saudi Aramco untuk mengatur ekspor minyak. Tetangga terdekat Indonesia, Malaysia juga punya Petronas untuk mengatur transaksi ekspor minyak.
Menurut Martha, ada beberapa tantangan yang mendatang dari implementasi kebijakan ekspor satu pintu ini. Salah satunya, para pemain CPO, batubara dan ferro alloy mayoritas perusahaan swasta.
“Kalau China, Arab Saudi dan Malaysia bisa menguasai karena pemain besarnya adalah BUMN jadi relatif mudah. Sementara, di Indonesia mayoritas perusahaan swasta,” jelasnya dalam paparan daring belum lama ini.
Saham Lapis Kedua Berguguran di Tengah Gejolak Pasar, Bagaimana Prospeknya?
Martha bilang emiten yang memang penjualannya besar di domestik otomatis tidak akan terpengaruh dari kebijakan anyar ini. Namun akan berdampak negatif bagi emiten yang porsi ekspornya besar.
Berdasarkan komoditasnya, emiten yang bergelut di sektor batubara lebih banyak pemain ekspornya ketimbang CPO dan ferro alloy. Martha mencontohkan emiten batubara dengan ekspor tinggi ada di AADI, ITMG dan DSSA.
Dalam catatan Mirae Asset Sekuritas, porsi ekspor AADI mencapai 77%, ITMG sebesar 85% dan DSSA 63%. Sementara dari sektor CPO, SMAR, SSMS dan AALI menjadi tiga emiten dengan porsi ekspor terbesar.
“Untuk nikel yang paling pengaruh ada NCKL karena penjual ke Glencore. INCO juga porsi ekspor besar, tetapi mereka masih menjual nickel matte yang produknya belum diatur,” ucap Martha.