Dua anak usaha mau go private, intip prospek TOWR

Ifonti.com JAKARTA. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) tengah melakukan transformasi di internal entitas usahanya, yakni membawa anak usahanya untuk delisting dan go private.

Yakni, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR). Di mana, SUPR telah mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 20 Mei 2026. 

Direktur Utama Solusi Tunas Pratama, Juliawati Gunawan Halim menjelaskan rencana go private atau penghapusan pencatatan saham ini masuk dalam salah satu mata agenda yang sudah disetujui RUPS.  

Dia bilang SUPR bersama Protelindo telah melakukan evaluasi secara menyeluruh atas strategi bisnis  jangka panjang Grup dalam rangka pengeluaran aset dan operasional yang lebih efisien.

Sarana Menara (TOWR) Membukukan Laba Rp 3,67 Triliun Sepanjang Tahun 2025

“Ini diperlukan untuk melakukan restrukturisasi dalam grup, termasuk meninjau ulang status kepemilikan saham oleh TOWR maupun tidak langsung di beberapa anak perusahaan,” jelasnya belum lama ini. 

Selain itu, kata Julia, perkembangan pemenuhan kewajiban refloat oleh Protelindo dan minimum free floatoleh SUPR juga menjadi pertimbangan untuk melakukan delisting dan go private ini. 

Sementara, IBST masih menunggu persetujuan pemegang saham. Jika tidak ada aral melintang, IBST akan menggelar RUPS Luar Biasa pada 5 Juni 2026. 

Dari sisi kinerja, secara konsolidasi TOWR meraup pendapatan operasional sebesar Rp 13,33 triliun di sepanjang 2025. Raihan tersebut meningkat 4,6% secara tahunan atau Year on Year (YoY).

Efisiensi & Ekspansi Dorong Kinerja Emiten Menara Grup Djarum, Cek Rekomendasi TOWR​

Total menara TOWR sepanjang 2025 mencapai 36.246 dengan total tenant sebanyak 60.540. Dengan demikian, tenancy ratio TOWR mencapai 1,67 kali sampai akhir 2025.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga memproyeksikan TOWR akan relatif stabil pada 2026 dengan potensi pertumbuhan pendapatan sebesar 4,65% YoY menjadi Rp 13,95 triliun.

“Secara keseluruhan kinerja TOWR diperkirakan akan tetap resilient dan akan didukung oleh akselerasi dari segmen fiber,” jelasnya. 

Menurutnya, kinerja TOWR masih berpotensi menghadapi tekanan operasional seiring eksposur terhadap XLSmart pasca konsolidasi industri telekomunikasi.

Meski demikian, Aditya menilai fundamental TOWR tetap solid karena ditopang pertumbuhan bisnis fiber yang terus meningkat.

“Fiber diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan perseroan di tengah prospek bisnis menara yang relatif moderat akibat konsolidasi industri,” jelas Aditya.

Ke depan, Phintraco Sekuritas memperkirakan monetisasi bisnis fiber akan terus meningkat. Take-up rate diproyeksikan mencapai sekitar 20% pada 2026, dibandingkan realisasi sekitar 14% pada 2025.

Selain itu, layanan Fiber to The Tower (FTTT) dan Fiber to The Home (FTTH) diperkirakan masing-masing tumbuh 4,66% dan 10,88% sepanjang tahun ini.

Anak Usaha TOWR Perpanjang Tenor Pinjaman Rp 500 Miliar dari Bank QNB