Pasar obligasi korporasi dibayangi pelemahan rupiah dan kenaikan yield

Ifonti.com – JAKARTA. Prospek pasar obligasi korporasi hingga akhir 2026 diperkirakan masih bergerak dinamis seiring tekanan eksternal yang belum mereda. Pelemahan rupiah, kenaikan yield global, serta ketidakpastian geopolitik dinilai menjadi kombinasi sentimen yang perlu dicermati pelaku pasar dan calon emiten.

Fixed Income Analyst PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Doni Kuswantoro, mengatakan outlook suku bunga global dan domestik saat ini menjadi perhatian utama pelaku pasar obligasi.

Menurut dia, sentimen pasar cenderung tertekan akibat kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah yang berpotensi berlangsung berkepanjangan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap inflasi global serta mempengaruhi ekspektasi suku bunga, sehingga mendorong kenaikan yield obligasi secara global.

“Konflik yang terus berkepanjangan dapat semakin menaikkan tingkat yield obligasi, sementara resolusi konflik dan normalisasi harga minyak dapat mengurangi kekhawatiran pasar dan lebih suportif pada tingkat yield obligasi,” ujar Doni kepada Kontan, Senin (25/5/2026).

Yield SBN Naik, Pasar Obligasi Korporasi Diperkirakan Mulai Tertekan

Selain faktor geopolitik, risiko pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga menjadi perhatian. Asal tahu saja, nilai tukar rupiah tembus di atas Rp 17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan hari ini. Rabu (27/5/2026), rupiah dibuka di level Rp 17.834 per dolar AS

Menurut Doni, pelemahan kurs dapat menghambat minat calon emiten melakukan ekspansi melalui pasar modal, terutama perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.

Di tengah kondisi tersebut, Doni memperkirakan tren yield obligasi korporasi hingga akhir tahun masih akan bergerak dinamis. “Yield diperkirakan tetap dinamis dalam jangka pendek karena ketidakpastian kondisi Timur Tengah,” katanya.

Melansir data Pefindo, yield obligasi korporasi tenor tiga tahun kategori AAA berada di level sekitar 5,8% pada kuartal I-2026, mulai menanjak naik dibanding kuartal IV-2025 di kisaran 5,7%-5,8%, tetapi lebih rendah dari periode kuartal I-2025 yang di kisaran 7%.

Obligasi Korporasi Masih Solid, Namun Semester II-2026 Perlu Diwaspadai

Karena itu, strategi investasi yang mengedepankan kualitas aset dinilai semakin penting. Doni menyarankan investor untuk fokus pada obligasi dengan kualitas kredit yang baik serta menerapkan diversifikasi portofolio guna menjaga keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko.

Menurut dia, level yield yang saat ini masih relatif tinggi justru dapat menjadi peluang bagi investor untuk mengunci potensi return yang lebih menarik. Namun, strategi tersebut perlu diimbangi dengan disiplin dalam seleksi kredit dan perhatian terhadap likuiditas pasar.

Doni menambahkan, investor juga dapat mempertimbangkan investasi melalui reksa dana pendapatan tetap (fixed income fund) sebagai alternatif strategi di tengah pasar yang fluktuatif.

“Portofolio dikelola secara aktif oleh fund manager sehingga dapat menjadi solusi efektif dalam kondisi pasar yang dinamis,” tutup Doni.

BI Rate Naik, Investor Obligasi Kini Ubah Strategi Fokus Kupon & Tenor Pendek