Rupiah belum mampu menguat di tengah susutnya surplus neraca dagang

Ifonti.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ini.

Melansir Bloomberg, rupiah spot ditutup pada level Rp 17.839 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026), melemah 0,19% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.805 per dolar AS. 

Tapi di sisi lain, rupiah pada kurs rupiah Jisdor hari ini menguat Rp 20 atau 0,11% menjadi Rp 17.863 per dolar AS dari posisi 29 Mei 2026 di Rp 17.883 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah sempat membalikkan sebagian pelemahan awal terhadap dolar AS setelah pelaku pasar mencermati data neraca perdagangan Indonesia periode April 2026.

Surplus Neraca Dagang Diproyeksi Menyempit Jadi US$ 1,43 Miliar pada April 2026

Untuk diketahui Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada April 2026 hanya mencatat surplus US$ 89,1 juta, jauh lebih rendah dibandingkan surplus Maret 2026 yang mencapai US$ 3,32 miliar.

Meski demikian, capaian tersebut memperpanjang tren surplus neraca perdagangan Indonesia menjadi 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Sejalan dengan itu, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 25,30 miliar, sedangkan impor mencapai US$ 25,21 miliar. Kondisi tersebut membuat selisih antara ekspor dan impor semakin tipis dibandingkan bulan sebelumnya.

Menurutnya, meskipun surplus perdagangan pada April menjadi yang terkecil sejak 2020, lonjakan ekspor dan impor menunjukkan aktivitas ekonomi yang tetap kuat dan memberikan dukungan terhadap pergerakan rupiah.

“Namun lonjakan pada ekspor dan impor, secara umum angka-angka yang kuat dan mendukung rupiah,” terang Lukman kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).

Namun demikian, penguatan rupiah tertahan oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menyusul lonjakan inflasi pada Mei 2026, yang sebesar 0,28% secara bulanan mtm dan 3,08% secara tahunan.

Surplus Neraca Dagang Menyempit Ke US$ 2 Miliar per April 2026, Efek Impor Energi

Kondisi tersebut dinilai mengurangi minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN).

Di sisi eksternal, pergerakan dolar AS juga masih menjadi faktor penekan bagi rupiah.

Lukman menjelaskan indeks dolar AS menguat cukup signifikan pada malam sebelumnya sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah pada awal perdagangan, meski kemudian sedikit mengalami penurunan.

Untuk perdagangan Rabu (3/6), Lukman memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi sentimen eksternal, terutama perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Pasalnya, tidak terdapat data ekonomi penting baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang berpotensi menjadi penggerak pasar.

Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.900 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6).