
Ifonti.com – JAKARTA. Prospek kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diperkirakan masih menghadapi berbagai tantangan sepanjang 2026. Tekanan biaya bahan baku, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga perubahan perilaku konsumen yang beralih ke produk lebih murah diperkirakan akan membatasi ruang pertumbuhan emiten barang konsumsi tersebut.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, melihat prospek UNVR tahun ini masih cukup berat. Menurutnya, kenaikan biaya kemasan dan harga minyak sawit mentah (CPO), ditambah pelemahan rupiah, akan terus menekan margin laba kotor perseroan.
Di sisi lain, tren down-trading atau pergeseran konsumen ke merek lokal yang lebih murah masih berlanjut. Kondisi tersebut semakin menantang karena para pemain lokal juga semakin agresif dalam melakukan perang harga untuk merebut pangsa pasar.
Investor Mulai Lirik Aset Global di Tengah Tekanan Rupiah dan Volatilitas Pasar
Meski demikian, Wafi melihat masih ada peluang bagi UNVR untuk menjaga profitabilitas melalui efisiensi biaya operasional. Strategi perusahaan yang fokus pada portofolio produk yang sudah ada, tanpa agresif meluncurkan merek baru, dinilai dapat membantu menjaga margin di tengah tekanan biaya.
“Kami perkirakan laba bersih (tahun ini) tumbuh single to low double digit, lebih ke stabilisasi setelah beberapa tahun tertekan,” ujar Wafi saat dihubungi Kontan, Selasa (2/6/2026).
Sejalan, mencatatkan kinerja keuangan yang positif sepanjang kuartal I-2026. Berdasarkan laporan keuangan, penjualan bersih UNVR tercatat sebesar Rp 8,44 triliun, naik 2,82% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 8,21 triliun. Pun total laba bersih UNVR melonjak 72,99% menjadi Rp 2,14 triliun per kuartal I-2026, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp 1,24 triliun pada periode yang sama sebelumnya.
Lalu, sejumlah sentimen negatif lain juga membayangi. Pelemahan rupiah dinilai akan terus meningkatkan biaya impor bahan baku serta pembayaran royalti kepada induk usaha, yakni Unilever Plc.
Kemudian isu boikot produk yang dikaitkan dengan dinamika geopolitik global dinilai masih belum sepenuhnya mereda. Di saat yang sama, daya beli masyarakat kelas menengah juga masih tertekan oleh tingkat suku bunga acuan yang relatif tinggi.
Dari sisi katalis positif, Wafi melihat pemulihan segmen Home and Personal Care (HPC) berpotensi menjadi salah satu penopang kinerja UNVR tahun ini. Selain itu, efisiensi biaya dari fokus pada portofolio produk eksisting juga dapat membantu menjaga profitabilitas perusahaan.
Faktor lain yang berpotensi mendukung kinerja adalah membaiknya daya beli masyarakat apabila pemerintah mengeluarkan stimulus fiskal yang mampu meningkatkan konsumsi rumah tangga.
Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia, Benny Kurniawan, mengatakan bahwa secara kumulatif dalam dua tahun, pertumbuhan laba UNVR cenderung stagnan. Menurutnya, kondisi ini menghasilkan profil risiko dan imbal hasil yang kurang menarik bagi investor.
Benny juga tidak melihat ruang bagi UNVR untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) guna menopang harga saham.
“Hal ini karena regulator kemungkinan akan tetap mendorong kebijakan free float minimum 15%, sementara saat ini porsi saham publik UNVR hanya sekitar 14,6% setelah program buyback tahun lalu,” jelas Benny dalam riset 5 Mei 2026.
Di sisi lain, UNVR mengonfirmasi bahwa merek-merek di segmen Foods, yaitu Bango dan Royco, termasuk dalam transaksi divestasi kepada McCormick. Setelah transaksi ini selesai, pendapatan UNVR diperkirakan turun dari sekitar US$ 2 miliar menjadi sekitar US$ 1,5 miliar.
Saat ini, kehadiran bisnis ritel McCormick di Indonesia masih relatif kecil. Oleh karena itu, akan ada Transition Services Agreement (TSA) yang memungkinkan McCormick tetap memanfaatkan infrastruktur milik UNVR untuk sementara waktu setelah transaksi ditutup.
Setelah divestasi bisnis Foods, strategi UNVR akan berfokus sebagai perusahaan yang sepenuhnya bergerak di segmen Home & Personal Care (HPC).
“Perusahaan berupaya menghadapi persaingan yang semakin berorientasi pada nilai (value-driven), khususnya di kategori deterjen, di mana ekspektasi harga per kilogram telah mengalami penyesuaian ke level yang lebih rendah,” ujar Analis UBS Sekuritas Indonesia Permada Darmono dalam riset 25 Mei 2026.
Kata Permada, manajemen UNVR menekankan strategi pertumbuhan yang bertumpu pada peningkatan volume penjualan dan penguatan daya ungkit operasional (operating leverage), disertai upaya premiumisasi pada produk cair, format deterjen premium, serta produk pembersih profesional dan kesehatan.
Pada 2025, pendapatan UNVR tercatat sebesar Rp 31,94 triliun. UBS memperkirakan pendapatan pada 2026 akan naik menjadi Rp 32,44 triliun. Dengan demikian, pendapatan diproyeksikan tumbuh sekitar 1,5% secara tahunan (yoy).
Sementara itu, laba bersih UNVR diperkirakan meningkat lebih kuat. Setelah membukukan laba bersih sebesar Rp 3,54 triliun pada 2025, laba bersih tahun 2026 diproyeksikan mencapai Rp 4,60 triliun. Sehingga, laba bersih berpotensi tumbuh sekitar 30% yoy.
Dengan berbagai faktor tersebut, Benny memberikan rekomendasi kepada investor untuk underweight saham UNVR dengan target harga Rp 1.060. Kemudian Permada memberikan rating Neutral terhadap saham UNVR dengan target harga Rp 1.800 per saham.
Sementara Analis Sucor Sekuritas, Hansen Christian Seng, memberikan rekomendasi investor untuk buy saham UNVR dengan target harga Rp 1.900 per saham.
Reksadana Saham Berpeluang Rebound, Volatilitas Masih Membayangi