
Ifonti.com – , JAKARTA — Upaya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk bangkit dari tekanan dinilai masih menghadapi tantangan berat. Di tengah penguatan sejumlah bursa saham global, pasar saham Indonesia justru kembali tertekan akibat minimnya sentimen positif dari dalam negeri.
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, mengatakan penguatan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir belum dapat menjadi sinyal pemulihan yang berkelanjutan. Menurut dia, pasar masih membutuhkan katalis domestik yang mampu mendorong kepercayaan investor.
“Banyak yang bertanya kapan rebound. Saya selalu bilang belum akan benar-benar rebound kalau tidak ada sentimen positif dari domestik,” kata Hendra dalam pesan singkat di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Pada perdagangan Rabu pagi, IHSG sempat merosot 2,77 persen ke level 6.023,673 setelah dibuka pada level 6.207,102. Pelemahan tersebut terjadi setelah indeks sempat menguat pada perdagangan sebelumnya.
Hendra menilai, setiap penguatan yang terjadi sejauh ini masih rentan berbalik arah. Tekanan jual yang muncul membuat kenaikan indeks belum mampu bertahan lama. “Baru naik sedikit malah kembali turun. Kenaikannya masih mudah tertekan lagi,” ujarnya.
Selain minimnya katalis domestik, pasar juga masih dibayangi arus keluar dana asing. Hingga 2 Juni 2026, investor asing tercatat membukukan jual bersih sekitar Rp 66,2 triliun sepanjang tahun berjalan. Pada saat yang sama, rupiah juga bergerak melemah ke kisaran Rp 17.918 per dolar AS.
Menurut Hendra, kondisi tersebut membuat pasar saham Indonesia tertinggal dibandingkan sejumlah bursa global yang justru mencatatkan kinerja lebih baik. “Yang lain bursa sudah mencetak rekor tertinggi baru, sementara kita masih tertahan,” ujarnya.
Hendra menyebut, pelaku pasar kini menantikan sentimen baru dari dalam negeri, mulai dari perbaikan data ekonomi hingga kebijakan yang dapat mendorong kembali minat investasi di pasar modal Indonesia.