Krisis kepercayaan investor bikin IHSG ambruk 3 hari beruntun

Jakarta, IDN Times – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai saat ini masih terus dalam tekanan dan belum beranjak dari level 5.000-an. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai hal tersebut sebagai imbas adanya krisis kepercayaan investor.

Penilaian itu juga sekaligus menanggapi pernyataan Pjs Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik yang mengatakan fundamental emiten atau pasar tetap terjaga di tengah tekanan pada IHSG.

“Lebih kepada krisis kepercayaan sih kalau menurut saya. Meskipun pertumbuhan ekonomi makro relatif terjaga, adapun pasar keuangan digerakkan oleh ekspektasi masa depan,” kata Nafan kepada IDN Times, Jumat (5/6/2026).

1. Faktor yang bikin investor khawatir

Kekhawatiran investor bukannya tanpa alasan. Nafan menjelaskan, hal itu terjadi karena banyaknya intervensi negara yang kemudian mampu memengaruhi pasar keuangan domestik.

“Adanya kekhawatiran para pelaku investor atas intervensi negara, pembentukan badan baru seperti DSI/Danantara misalnya, serta menyempitnya surplus neraca perdagangan di mana per April 2026 lalu hanya mencatat surplus USD 89,1 juta, tentunya dapat memicu confidence crisis,” tutur Nafan.

2. Fundamental emiten kuat

Dalam tiga hari belakangan, IHSG terus berada di zona merah. Namun, BEI menilai pelemahan tersebut belum mencerminkan kondisi fundamental perusahaan-perusahaan tercatat yang saat ini justru berada dalam kondisi solid.

Pjs Dirut BEI, Jeffrey mengatakan kinerja emiten sepanjang 2025 hingga kuartal I-2026 menunjukkan tren positif. Menurutnya, investor perlu melihat kondisi fundamental pasar secara lebih menyeluruh di tengah fluktuasi jangka pendek yang terjadi di bursa.

Jeffrey menjelaskan, laporan keuangan seluruh perusahaan tercatat hingga akhir 2025 menunjukkan pertumbuhan laba yang kuat.

“Fundamental pasar kita pada saat ini dalam kondisi yang baik. Ya kalau kita mencermati dari laporan keuangan yang sudah disampaikan oleh seluruh emiten, per akhir tahun 2025 dari seluruh perusahaan tercatat itu membukukan pertumbuhan laba lebih dari 21 persen,” ujar Jeffrey kepada awak media di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Menurut dia, capaian tersebut menjadi indikator bahwa kinerja korporasi masih bertumbuh meski pasar saham sedang menghadapi tekanan.

3. Emiten LQ45 catat lonjakan laba hampir 30 persen

Kinerja positif juga terlihat dari kelompok saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45. Pada kuartal I-2026. Laba bersih emiten dalam kelompok tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kalau kita lihat perkembangannya sampai dengan kuartal pertama tahun 2026 dibandingkan dengan kuartal pertama di tahun 2025, khususnya untuk saham-saham dalam kelompok LQ45, terjadi pertumbuhan laba bersih hampir 30 persen, yakni 29,9 persen,” kata Jeffrey.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan perusahaan-perusahaan besar yang menjadi penggerak utama pasar masih mampu mencatatkan kinerja operasional kuat.

Anjlok Lebih dari 4 Persen, IHSG Sentuh Level 5.594! Purbaya Soal IHSG Jeblok ke 5.900-an: Ketakutan Jangka Pendek Sentimen Negatif Moody’s ke Danantara Perparah Tekanan Rupiah dan IHSG