Jakarta, IDN Times – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan faktor yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami pelemahan. Pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (5/6/2025), IHSG melemah hingga 245,01 poin atau 4,2 persen ke level 5.594,77.
Dalam sepekan terakhir, IHSG bergerak di rentang 5.594-6.264. Angka tersebut bahkan lebih buruk dari sebelum pandemik COVID-19. Tercatat pada 2019, IHSG bergerak di rentang 6.011,83-6.532,97.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan pelemahan IHSG tak hanya dipengaruhi sentimen negatif pada rebalancing index yang dilakukan FTSE Russel dan MSCI. Namun, pelemahan itu turut dipengaruhi faktor domestik.
“Terdapat juga perkembangan berbagai indikator dan sentimen ekonomi baik domestik maupun global yang juga turut mempengaruhi dan menjadi bagian yang diperhitungkan oleh para investor,” kata Hasan dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB).
1. Investor diimbau cermati dinamika pasar
Kepada para investor, OJK mengimbau untuk terus mengikuti dan mencermati berbagai dinamika pasar secara objektif, proporsional, dan tetap rasional dengan mengedepankan analisis yang memadai dan juga memanfaatkan berbagai informasi yang valid dan terkonfirmasi.
“Ini penting agar dalam setiap pengambilan keputusan investasi dapat dilakukan sesuai dengan hasil analisis dimaksud di tengah-tengah kondisi pasar yang bervolatilitas tinggi maupun memiliki dinamika dan tekanan saat ini,” ucap Hasan.
2. Klaim fundamental pasar modal Indonesia masih kuat
Meski begitu, OJK menilai fundamental pasar modal Indonesia, dan juga kinerja emiten secara umum masih solid. Hal itu tercermin dari tingkat nilai transaksi dan likuiditas pasar saham domestik yang masih tercatat tinggi.
Hasan juga menyampaikan, laporan keuangan emiten terakhir yaitu untuk periode triwulan I yang secara umum secara agregat masih mencatatkan pertumbuhan yang positif.
“Tentu ini adalah angka-angka historis. Dan mayoritas perusahaan tercatat tetap tercatat membukukan laba dengan pertumbuhan laba secara agregat lebih dari 21 persen jika dibandingkan periode yang sama yaitu Triwulan 1 di tahun sebelumnya,” tutur Hasan.
3. OJK terbitkan kebijakan responsif
Demi menjaga stabilitas di industri pasar modal, OJK telah menerbitkan sejumlah kebijakan yang responsif terhadap kondisi pasar. Misalnya kebijakan fleksibilitas bagi para emiten dalam melakukan proses buyback saham tanpa melalui proses persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
OJK juga terus mencermati perkembangan dan tekanan di pasar, melakukan penyesuaian parameter Trading Halt dan Auto Rejection Bawah (ARB). OJK juga menunda implementasi dan melarang praktik short selling dalam kondisi saat ini.
“Dan juga dengan tetap mempertimbangkan kesiapan kondisi pasar dan aspek perlindungan investor,” ucap Hasan.
OJK Ungkap Dolar AS Masih Jadi Safe Haven Bikin Rupiah Tertekan Krisis Kepercayaan Investor Bikin IHSG Ambruk 3 Hari Beruntun Anjlok Lebih dari 4 Persen, IHSG Sentuh Level 5.594!