Wall Street tumbang Jumat (5/6): Saham chip berguguran, sentimen data tenaga kerja AS

Ifonti.com  Indeks utama Wall Street melemah pada perdagangan hari Jumat (5/6/2026). Penurunan ini dipicu oleh saham-saham produsen chip yang mulai kehilangan momentum setelah sempat mengalami reli tajam.

Di sisi lain, laporan bulanan lapangan kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat (hawkish).

IHSG Ambruk 4,19% ke 5.594, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing Akhir Pekan Ini

Melansir Reuters pukul 09.43 waktu setempat (ET): Dow Jones Industrial Average turun 128,36 poin (0,25%) ke level 51.433,57.

Indeks S&P 500 melemah 64,63 poin (0,85%) ke level 7.519,68 dan Nasdaq Composite anjlok 374,02 poin (1,39%) ke level 26.456,94.

Jika tren pelemahan ini bertahan hingga penutupan, S&P 500 akan mencatatkan penurunan mingguan pertama mereka sejak April. Indeks Nasdaq yang padat saham teknologi juga bersiap menutup pekan ini dengan sedikit lebih rendah.

Sebaliknya, indeks Dow Jones yang berbasis pembobotan harga berada di jalur yang tepat untuk menguat selama tiga minggu berturut-turut.

Langkah BUMI Membangun Fondasi Hilirisasi Batubara

Sebagai informasi, laporan Nonfarm payrolls menunjukkan pertumbuhan sebesar 172.000 lapangan kerja pada bulan Mei, menyusul peningkatan sebanyak 115.000 pada bulan April.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi para ekonom dalam survei Reuters yang memperkirakan pertumbuhan hanya sebesar 85.000.

Pasar uang kini melihat adanya peluang sebesar 98% bahwa Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun ini.

Angka ekspektasi tersebut melonjak tajam dari yang sebelumnya hanya berada di kisaran 60% sebelum data ketenagakerjaan dirilis.

Data ekonomi penting ini keluar menjelang pertemuan kebijakan perdana Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, akhir bulan ini.

Warsh mulai memimpin di saat ekonomi AS tengah berjuang menghadapi inflasi yang tinggi, yang diperparah oleh konflik di Timur Tengah.

IHSG Anjlok 8,73% Dalam dalam Sepekan, Kepercayaan Investor Global Makin Terkikis

“Kita tidak sedang membicarakan pasar tenaga kerja yang tumbuh luar biasa, namun kita juga tidak melihat pasar tenaga kerja yang benar-benar hancur,” ujar Mark Malek, Chief Investment Officer di Siebert Financial.

“Sangat sehat bagi pasar untuk sedikit menarik diri dan melambat.”

Saham Teknologi dan Chip Terkoreksi

Nvidia, perusahaan dengan nilai pasar terbesar di dunia, mencatat penurunan sebesar 2,5%. Sementara itu, produsen chip lainnya seperti Intel, Micron, AMD, dan Broadcom merosot antara 4,2% hingga 6,2%.

Sektor saham teknologi secara keseluruhan melemah selama tiga sesi berturut-turut dengan penurunan sebesar 2,5%. Indeks Semikonduktor Philadelphia SE bahkan anjlok lebih dari 5%.

Dari Emas hingga Deposito, Ini Racikan Portofolio Saat Rupiah Melemah

Padahal, lonjakan saham semikonduktor sebelumnya menjadi motor utama pemulihan Wall Street dari posisi terendah pada bulan Maret menuju rekor tertinggi baru.

Gencatan senjata sementara di Timur Tengah dan pertumbuhan laba perusahaan yang kuat juga sempat menyokong penguatan tersebut.

Meski demikian, enam dari sebelas indeks utama S&P 500 berhasil bergerak ke zona hijau, dipimpin oleh sektor kebutuhan pokok (consumer staples), seiring langkah investor yang memindahkan dana mereka ke sektor lain.

Sentimen Pasar Lainnya

Di sisi geopolitik, pembicaraan antara AS dan Iran dilaporkan masih menemui jalan buntu menjelang akhir pekan.

Kondisi ini memperumit prospek kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut.

SCG Divestasi Saham Chandra Asri Pacific (TPIA), Kepemilikannya Tinggal 15,71%

Melihat situasi ini, Citi menyatakan bahwa mereka mulai mengurangi eksposur pada instrumen saham setelah reli panjang yang kuat. Mereka menyoroti risiko kenaikan inflasi dan risiko posisi pasar (positioning risks).

Meski begitu, Citi tetap mempertahankan pandangan jangka panjang yang konstruktif untuk saham-saham AS, yang didukung oleh pertumbuhan laba berbasis kecerdasan buatan (AI).

Di antara saham-saham yang bergerak aktif, Lululemon Athletica anjlok 8% setelah produsen pakaian olahraga tersebut memangkas proyeksi laba tahunannya dan memproyeksikan laba kuartal kedua jauh di bawah perkiraan Wall Street.

Sebaliknya, Cooper Companies melonjak 6,4% setelah produsen lensa kontak tersebut mencetak kinerja kuartal kedua yang melampaui estimasi.

Dari lantai bursa, S&P Global menegaskan tidak akan mengubah syarat kelayakan untuk indeks utamanya.

Telkom (TLKM) Bakal Gelar Buyback Saham Rp 4 Triliun, Begini Catatan Analis

Keputusan ini otomatis menutup peluang bagi SpaceX milik Elon Musk untuk masuk dengan cepat ke dalam indeks acuan S&P 500 setelah melakukan penawaran umum perdana (IPO), yang digadang-gadang akan menjadi IPO terbesar di dunia.

Sementara itu, S&P Dow Jones Indices akan mengumumkan hasil penyeimbangan kembali (rebalancing) setelah pasar ditutup.

Produsen chip Marvell Technology, yang saat ini memiliki valuasi di atas US$270 miliar, menjadi salah satu kandidat kuat yang akan dimasukkan ke dalam indeks acuan tersebut.