
Bank Indonesia (BI) menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan atau RDG darurat pada Selasa (9/6). RDG tersebut menghasilkan keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai keputusan BI ini merupakan langkah yang tepat mengingat pelemahan rupiah telah melampaui perkiraan, tekanan global masih tinggi, dan pasar membutuhkan sinyal bahwa otoritas moneter tidak membiarkan nilai tukar bergerak tanpa respons kebijakan.
“Kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen memperkuat daya tarik aset rupiah, membantu menahan arus keluar modal asing, serta mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa yang selama ini digunakan untuk stabilisasi rupiah,” ucap Josua kepada kumparan, Selasa (9/6).
Meski demikian, Josua mengingatkan kenaikan suku bunga tidak serta-merta membuat rupiah kembali menguat. Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh perbedaan imbal hasil dengan aset dolar AS, tetapi juga oleh kombinasi faktor global dan domestik.
Dari sisi global, tekanan berasal dari perang Iran dan AS, tingginya harga minyak, suku bunga Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi, serta kecenderungan investor global untuk mencari aset yang lebih aman. Sementara dari dalam negeri, pasar masih mencermati kredibilitas fiskal, arah kebijakan pemerintah, arus keluar dari pasar saham, dan kepastian regulasi.

“Karena itu, kenaikan BI Rate lebih tepat dilihat sebagai langkah untuk meredam tekanan jangka pendek, bukan solusi tunggal untuk memulihkan rupiah,” lanjut Josua.
Lebih lanjut, Josua menilai efektivitas kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada sejumlah faktor. Pertama, kemampuan kenaikan suku bunga dalam menarik kembali aliran dana asing ke instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kedua, keberhasilan koordinasi antara BI dan pemerintah dalam menjaga likuiditas pasar uang serta sektor perbankan agar pengetatan moneter tidak mengganggu pembiayaan ekonomi. Ketiga, kemampuan pemerintah memperkuat kepercayaan pasar melalui disiplin fiskal, komunikasi kebijakan yang jelas, dan konsistensi menjaga iklim investasi.
“Jika tiga hal ini berjalan, rupiah berpeluang lebih stabil. Jika tidak, kenaikan suku bunga hanya akan membeli waktu dengan biaya yang semakin mahal,” sebut Josua.
Di sisi lain, ia mengingatkan adanya risiko dari kenaikan BI Rate terhadap perekonomian domestik. Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya dana perbankan, menahan penurunan suku bunga kredit, serta menambah beban dunia usaha yang saat ini juga menghadapi tekanan dari pelemahan rupiah dan tingginya harga energi.
“Karena itu, BI perlu menjaga keseimbangan. Di satu sisi, BI harus cukup tegas menjaga rupiah agar tekanan tidak merembet ke inflasi dan kepercayaan investor,” ujarnya.
Namun di sisi lain, likuiditas tidak boleh diperketat secara berlebihan karena dapat menekan penyaluran kredit produktif dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks tersebut, penguatan fasilitas likuiditas perbankan dinilai penting agar upaya stabilisasi rupiah tidak berujung pada tekanan pembiayaan bagi sektor riil.
“Jadi, kenaikan BI Rate hari ini adalah langkah yang perlu dan tepat. BI sedang mengirim pesan bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas,” tutur Josua.
Menambahkan Josua, Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menilai keputusan BI menaikkan suku bunga juga merupakan langkah yang tepat dalam kondisi saat ini. Menurutnya, prioritas utama yang perlu dijaga adalah stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan pasar keuangan di tengah tingginya ketidakpastian global, kuatnya dolar AS, serta meningkatnya volatilitas arus modal.

“Kenaikan suku bunga menjadi sinyal bahwa BI tetap konsisten menjaga stabilitas makroekonomi dan mengendalikan ekspektasi pasar,” ucap Rizal kepada kumparan.
Meski demikian, ia mengingatkan kebijakan tersebut juga memiliki konsekuensi berupa meningkatnya biaya dana dan biaya kredit yang berpotensi menahan konsumsi, investasi, serta ekspansi dunia usaha.
“Dalam kondisi saat ini, menjaga stabilitas menjadi prioritas yang rasional karena tanpa stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan, risiko terhadap pertumbuhan ekonomi justru akan jauh lebih besar ke depan,” kata Rizal.