Yield SBN tembus 7,5%, ekonom: kejelasan arah fiskal lebih penting bagi investor

Ifonti.com – JAKARTA. Tekanan di pasar obligasi domestik masih terus berlanjut. Hal ini tecermin dari imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang naik ke level 7,5% pada Selasa (9/6/2026).

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyebut kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah indonesia dalam beberapa waktu terakhir merupakan bagian dari proses normalisasi pasar keuangan domestik.

Menurut Fakhrul, setelah periode panjang dimana kurva imbal hasil pemerintah berada pada kondisi yang sangat datar (super flat), pasar kini mulai bergerak kembali ke arah yang lebih sehat dan mencerminkan harga risiko yang sebenarnya.

Dharma Satya Nusantara (DSNG) Bagi Dividen Rp 498 Miliar dari Buku Tahun 2025

“Selama beberapa bulan terakhir kita melihat kondisi yang tidak normal. Kurva imbal hasil terlalu datar dan tidak sepenuhnya mencerminkan risiko yang sedang dihadapi perekonomian Indonesia maupun kondisi global. Kenaikan yield saat ini justru merupakan proses pemulihan fungsi pasar yang sehat,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa pasar obligasi merupakan fondasi utama sistem keuangan modern. Ketika harga obligasi tidak lagi mencerminkan keseimbangan antara risiko dan imbal hasil, maka investor akan kehilangan referensi harga yang kredibel untuk menempatkan modalnya.

“Investor global selalu membandingkan risiko dan return antar negara. Jika risiko meningkat tetapi yield tidak menyesuaikan, maka daya tarik aset keuangan akan menurun dan tekanan terhadap nilai tukar menjadi lebih besar. Karena itu, normalisasi yield merupakan bagian penting dari strategi stabilisasi rupiah,” katanya.

Fakhrul mencermati perkembangan terbaru saat ini, bahwa sebagian besar tenor SBN kini telah bergerak kembali ke atas level 7,0%. Ini menurutnya penting untuk mengembalikan daya tarik pasar obligasi Indonesia di mata investor global.

Bahkan, Fakhrul menilai bahwa proses penyesuaian tersebut masih dapat berlanjut secara bertahap sebelum pasar mencapai titik keseimbangan yang baru.

“Saya melihat investor dapat mulai melakukan akumulasi secara bertahap ketika imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada di atas kisaran 7,3%. Pada level tersebut, valuasi mulai menjadi menarik bagi investor jangka panjang, terutama apabila dibarengi dengan perbaikan arah kebijakan fiskal dan stabilitas nilai tukar,” ujarnya.

Menurutnya, yang terpenting saat ini bukanlah mempertahankan biaya pendanaan pemerintah serendah mungkin, melainkan memastikan pasar keuangan Indonesia kembali berfungsi secara kredibel.

Meski biaya bunga yang sedikit lebih tinggi sering kali jauh lebih murah dibandingkan biaya yang harus ditanggung ketika rupiah mengalami pelemahan berlebihan. Tapi katanya, stabilitas nilai tukar memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi dunia usaha, industri, dan perekonomian secara keseluruhan.

Fakhrul menilai langkah otoritas yang mulai memberikan ruang bagi yield untuk bergerak lebih tinggi juga akan membantu memperkuat efektivitas kebijakan BI yang sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas rupiah.

Meski demikian, Fakhrul menegaskan bahwa kenaikan yield saja tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan investor secara berkelanjutan. Faktor yang jauh lebih penting adalah komunikasi yang jelas mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah dalam beberapa tahun ke depan.

“Pasar saat ini tidak hanya memperhatikan tingkat bunga. Investor ingin melihat kejelasan arah fiskal, keberlanjutan APBN, strategi pembiayaan pemerintah, serta komitmen menjaga stabilitas makroekonomi dalam jangka panjang,” tegasnya.

Dalam konteks tersebut, Fakhrul menilai pemerintah perlu menunjukkan keberanian melakukan penyesuaian dan transformasi terhadap berbagai program belanja negara, termasuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Fakhrul, kondisi ekonomi saat ini bukanlah saat untuk mempertahankan seluruh kebijakan dalam bentuk awalnya, melainkan saat untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan agar fondasi pertumbuhan ke depan menjadi lebih kuat.

Ke depan, Fakhrul meyakini kombinasi antara normalisasi yield obligasi, perbaikan kurva imbal hasil, stabilisasi rupiah, serta penyesuaian fiskal yang kredibel akan menjadi fondasi penting untuk mengembalikan arus modal masuk ke Indonesia.

“Jika proses yield curve repairment ini terus berjalan dan dibarengi dengan komunikasi fiskal yang kuat, Indonesia memiliki peluang besar untuk kembali menjadi tujuan investasi yang menarik di kawasan. Pada akhirnya investor tidak mencari yield yang rendah. Investor mencari negara yang kredibel, pasar yang berfungsi, dan kebijakan yang konsisten,” pungkasnya.

Rupiah Spot Menguat 0,28% ke Rp 18.137 per Dolar AS pada Selasa (9/6) Siang