BI rate naik jadi 5,25 persen, ekonom sebut untuk pancing dana asing masuk ke RI

 

Ifonti.com – Kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25 persen dinilai sebagai langkah untuk menarik kembali aliran modal asing atau capital inflow ke pasar keuangan domestik.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, kenaikan suku bunga tersebut berkaitan erat dengan upaya menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan global serta meningkatkan daya tarik instrumen investasi Indonesia.

“Saya rasa langkah ini diambil untuk menarik investasi asing masuk ke Indonesia atau capital inflow. Ketika suku bunga naik, maka investasi ke portofolio keuangan Indonesia akan naik,” ujar Nailul Huda kepada JawaPos.com, Kamis (21/5).

Menurut dia, kenaikan suku bunga akan membuat instrumen keuangan domestik menjadi lebih kompetitif dibanding negara lain. Kondisi tersebut diharapkan mampu mendorong investor asing kembali masuk ke pasar obligasi maupun instrumen keuangan nasional lainnya.

Bea Cukai dan BAIS TNI Bongkar Sindikat Pita Cukai Palsu di Jateng, Potensi Kerugian Negara Rp 570 Miliar

Ia menjelaskan, sektor perbankan juga akan terdorong untuk menawarkan bunga simpanan yang lebih tinggi guna menghimpun dana masyarakat. Di sisi lain, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga berpotensi meningkat sehingga makin menarik bagi investor.

“Perbankan bisa menarik dana lebih tinggi, dan membuat SBN juga lebih tinggi yield-nya untuk menarik investor,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, Huda menilai kenaikan BI Rate juga dilakukan karena berbagai instrumen stabilisasi yang sebelumnya ditempuh pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia belum mampu menahan tekanan terhadap rupiah secara optimal.

“Saya melihat instrumen yang sudah dilakukan dari Purbaya katanya Rp 2 triliun per hari masuk ke SBN dan juga kebijakan operasi pasar BI, masih menemui jalan buntu,” ungkapnya.

Menurut Huda, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih terus mengalami pelemahan meskipun BI telah melakukan intervensi pasar dengan menguras cadangan devisa dalam jumlah besar.

Ia mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia pada Desember 2025 masih berada di level USD156 miliar. Namun, pada April 2026 jumlah tersebut turun menjadi sekitar USD146 miliar.

“Artinya, dalam 4 bulan saja, sudah dikeluarkan USD10 miliar, namun hasilnya rupiah masih melemah 6 persen year to date,” pungkasnya.