CEO Danantara: Proyek hilirisasi tahap dua bisa menghemat Rp 58,9 triliun

CILACAP. Rosan Perkasa Roeslani, Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), menyatakan proyek hilirisasi fase II akan membuat negara mampu menghemat US$ 3,4 miliar atau Rp 58.9 triliun (kurs Rp 17.320 per dolar AS) per tahun. Penghematan itu berasal dari penurunan impor bahan bakar minyak (BBM) dan produk industri lainnya. 

Di antara proyek yang groundbreaking pada hilirisasi fase II ini adalah kilang gasoline milik Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah dan kilang di Dumai, Riau. Dari kedua kilang tersebut, Indonesia bisa mengurangi impor bensin sebesar 2 juta kiloliter per tahun.  

“Kalau kami lihat tadi jumlah dari pengurangan impor, misalnya dari yang Cilacap dan Dumai itu US$ 1,25 miliar. Nanti ada pengurangan juga dari beberapa industri lainnya kita jumlahkan itu kurang lebih bisa save sampai US$ 3,4 miliar setiap tahunnya,” kata Rosan usai groundbreaking proyek hilirisasi Danantara fase II di Cilacap, Jawa Tengah.

 

Ia sedikit membocorkan terkait proyek hilirisasi Danantara fase ketiga yang akan memiliki enam proyek baru dan memiliki nilai yang cukup signifikan. “Nanti ada proyek-proyek realisasi berikutnya. Jadi, harapan Bapak (Presiden Prabowo Subianto) minta diperluas tidak hanya di bidang realisasi minyak dan gas atau mineral tapi juga sudah lihat hilirisasi ini di pertanian dan perikanan,” kata Rosan.

Meski demikian, ia masih belum dapat memberikan kepastian terkait fokus proyek hilirisasi fase ketiga sekaligus waktu pasti groundbreaking berikutnya. 

“Mungkin kuartal tiga, tapi saya enggak berani kasih bulan atau tanggal karena pasti meleset, ya,” ujar Rosan.

Ia mengatakan Danantara sedang mengkaji secara mendalam proyek-proyek besar ini. Mereka memperhitungkan berbagai faktor, termasuk dari sisi waktu, penyelesaiannya, pasar, dan penggunaan teknologi terbaik. 

“Mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi,” ucap Rosan.