RDG Bank Indonesia Mei 2026: Akankah BI rate dikerek demi pulihkan rupiah?

Ifonti.com – , JAKARTA — Bank Indonesia akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada siang ini, Rabu (20/5/2026).

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah membuat sejumlah ekonom mulai memperkirakan bank sentral tidak lagi memiliki ruang yang cukup lebar untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 4,75%.

Berdasarkan riset Stockbit, konsensus pasar kini memperkirakan median BI Rate hingga akhir 2026 berada di level 5%, atau mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).

“Tekanan terhadap rupiah saat ini didominasi oleh faktor eksternal, terutama meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah inflasi AS melampaui ekspektasi pasar dan harga minyak bertahan tinggi,” papar tim analis Stockbit.

Rupiah yang ditutup pada level Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan Selasa (19/5/2026) dinilai menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal mulai menjalar lebih luas ke pasar keuangan domestik. Pada saat yang sama, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga naik ke kisaran 6,82%—6,86%.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede memandang BI perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,00% pada RDG Mei ini guna menjaga stabilitas pasar dan memperkuat kepercayaan terhadap rupiah.

: : Bos SMBC: Perbankan Harus Siap Hadapi Potensi Kenaikan BI Rate

Menurut Josua, tekanan yang terjadi saat ini tidak hanya terlihat di pasar valuta asing, melainkan juga mulai terasa di pasar obligasi dan saham.

”Jika BI hanya menahan suku bunga tanpa sinyal kebijakan yang lebih kuat, pasar dapat menilai BI tertinggal dalam merespons tekanan, sehingga pelemahan rupiah berisiko berlanjut,” jelas Josua kepada Bisnis, Senin (18/5/2026).

: : IHSG Ditutup Melemah ke 6.370, Menanti Putusan BI Rate

Dia menjelaskan, penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta kenaikan harga minyak dunia menjadi kombinasi tekanan eksternal yang memperbesar risiko imported inflation dan beban subsidi energi pemerintah.

Meski demikian, Josua menilai kenaikan suku bunga tidak serta-merta menjadi langkah agresif untuk menahan laju pertumbuhan ekonomi, mengingat pertumbuhan kuartal I/2026 masih solid.

“Kenaikan kecil yang terukur dapat dilihat sebagai biaya stabilisasi untuk mencegah tekanan yang lebih mahal di kemudian hari, seperti biaya impor yang melonjak dan tergerusnya margin dunia usaha,” tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky. Dia memperkirakan BI Rate akan naik 25 bps menjadi 5,00% pada RDG Mei 2026.

Riefky menilai inflasi domestik sebenarnya masih relatif terkendali. Inflasi April 2026 tercatat sebesar 2,42% secara tahunan (year on year/YoY), masih berada dalam rentang target BI. Namun, tekanan terhadap rupiah dinilai menjadi faktor utama yang mendorong perlunya respons kebijakan moneter tambahan.

Dia juga menyoroti langkah intervensi BI yang disebut telah menguras cadangan devisa lebih dari US$10 miliar dalam empat bulan terakhir demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Untuk memperluas langkah stabilisasi nilai tukar rupiah, BI perlu menaikkan suku bunga acuannya,” kata Riefky, Selasa (19/5/2026).

Sementara itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menyampaikan pandangan yang lebih agresif. Dia menilai BI seharusnya menaikkan suku bunga hingga 50 bps guna memulihkan kredibilitas kebijakan makroekonomi dan mengembalikan pendekatan stabilisasi yang bersifat antisipatif (pre-emptive) serta mendahului kurva (ahead the curve).

Menurut Fakhrul, tekanan saat ini bukan sekadar persoalan inflasi, melainkan sudah menyentuh aspek kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Dia mengingatkan bahwa kondisi serupa pernah terjadi pada 2018, ketika BI terpaksa menaikkan suku bunga secara agresif demi menjaga stabilitas rupiah meski inflasi saat itu relatif rendah.

“Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank sentral sedang mempertahankan policy anchoritu sendiri,” ungkap Fakhrul dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).

Fakhrul menilai kenaikan suku bunga tetap dapat dikombinasikan dengan pelonggaran instrumen makroprudensial sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi bisa diminimalkan. Dia memperkirakan langkah pengetatan yang lebih tegas dapat mendorong rupiah kembali menguat menuju kisaran Rp16.800 per dolar AS.

Selain itu, dia juga mendorong pemerintah memperkuat komunikasi fiskal dan memperluas alternatif pembiayaan non-dolar AS, termasuk melalui skema pendanaan renminbi dan penerbitan dim sum bond.

Belum Ada Urgensi

Di sisi lain, belum semua ekonom melihat urgensi kenaikan suku bunga dalam RDG Mei ini. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual memperkirakan BI masih akan mempertahankan BI Rate di level 4,75%.

Menurut David, fundamental inflasi yang masih terjaga menjadi alasan utama di balik proyeksi penahanan tersebut.

“Sejauh ini target inflasi masih dalam range proyeksi BI [±2,5%], kecuali ada kenaikan harga BBM bersubsidi dan Pertamax,” jelas David, Senin (18/5/2026).