Pasar saham RI kian terjepit sentimen MSCI hingga DSI
IHSG melemah akibat tiga tekanan: outflow MSCI, outlook negatif Moody’s, dan kebijakan PT DSI.
IHSG melemah akibat tiga tekanan: outflow MSCI, outlook negatif Moody’s, dan kebijakan PT DSI.
IHSG dibuka melemah ke 6.194, terhambat saham big caps seperti BBCA dan BREN. Meski demikian, beberapa saham seperti BBRI dan BMRI menguat. Inflasi dan PMI manufaktur menjadi sentimen pasar.
Bank Indonesia memperketat pembelian valas tanpa ‘underlying’ untuk menstabilkan rupiah yang mendekati Rp17.900 per dolar AS, di tengah ketidakpastian global.
LPS mempertahankan tingkat bunga penjaminan hingga September 2026 meski BI Rate naik, untuk menjaga stabilitas perbankan dan kepercayaan nasabah.
Amar Bank belum agresif menyesuaikan suku bunga meski BI Rate naik 50 bps menjadi 5,25% pada Mei 2026.
Wamenkeu dan BI jaga kepercayaan investor SBN meski ada gejolak global. Yield SBN stabil, BI serap Rp140,57 triliun SBN untuk stabilitas pasar.
Kenaikan BI Rate berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat dan penyesuaian bunga KPR, yang dapat berdampak pada emiten properti seperti ASRI & MTLA.
Kenaikan BI Rate menjadi 5,25% berpotensi menekan sektor properti, mempengaruhi psikologis konsumen dan biaya KPR. BSDE dan CTRA tetap optimis menjaga penjualan.
ST016 diminati investor setelah BI naikkan suku bunga, meningkatkan imbal hasil. Penjualan hampir mencapai target, didukung minat tinggi pada produk syariah.
Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25%, mempengaruhi suku bunga KPR. Berikut simulasi cicilan KPR Mandiri.