Pasar saham RI kian terjepit sentimen MSCI hingga DSI
IHSG melemah akibat tiga tekanan: outflow MSCI, outlook negatif Moody’s, dan kebijakan PT DSI.
IHSG melemah akibat tiga tekanan: outflow MSCI, outlook negatif Moody’s, dan kebijakan PT DSI.
IHSG sesi I turun 4,95% ke 5.889,49 akibat koreksi saham besar. Investor fokus pada stabilitas rupiah dan kebijakan The Fed.
IHSG dibuka melemah ke 6.194, terhambat saham big caps seperti BBCA dan BREN. Meski demikian, beberapa saham seperti BBRI dan BMRI menguat. Inflasi dan PMI manufaktur menjadi sentimen pasar.
IHSG diprediksi uji level 6.362-6.484, cermati saham BRPT, IMPC, INCO, dan KLBF untuk peluang beli saat melemah.
IHSG naik 1,11% ke 6.195,42 pada 2 Juni 2026, didorong saham DSSA, BREN, dan big banks. Kapitalisasi pasar mencapai Rp10.918,65 triliun.
IHSG diprediksi bergerak di kisaran 6.000-6.300 pekan depan, dipengaruhi sentimen global, pelemahan rupiah, dan rebalancing MSCI.
IHSG turun 0,56% ke 6.127,38 pada 25-29 Mei 2026. Kapitalisasi pasar naik 0,88% ke Rp10.729 triliun. Transaksi harian naik 30,37%, meski frekuensi dan volume turun.
IHSG diprediksi volatil pada 29 Mei 2026 akibat rebalancing MSCI. Meski ada tekanan, pasar dinilai akan lebih stabil ke depan.
Kenaikan BI Rate ke 5,25% diprediksi meningkatkan daya tarik investasi di pasar obligasi, memicu capital inflow ke instrumen pendapatan tetap SBN.
IHSG ditutup melemah 1,23% ke level 6.130,19 dengan 461 saham mengalami penurunan, termasuk saham INCO, ASII, dan AMRT.