MSCI picu tekanan pasar, OJK sebut saham RI tetap atraktif
OJK menilai valuasi pasar saham Indonesia saat ini atraktif meskipun ada tekanan pasar akibat dinamika global dan domestik.
OJK menilai valuasi pasar saham Indonesia saat ini atraktif meskipun ada tekanan pasar akibat dinamika global dan domestik.
OJK mempercepat reformasi pasar modal dengan 8 aksi prioritas untuk meningkatkan integritas dan menarik kembali kepercayaan investor asing.
IHSG turun di bawah 7.000, membuka peluang akumulasi saham murah dengan fundamental kuat. Saham seperti AADI, AKRA, dan BBCA direkomendasikan.
IHSG turun ke 6.956,80 pada April 2026, terendah di Asia. Saham komoditas seperti EMAS dan ADRO tetap cuan.
Reformasi pasar modal Indonesia meningkatkan transparansi dan daya tahan IHSG. Meski tekanan global ada, sejarah menunjukkan IHSG pulih cepat.
IHSG tertekan akibat kebijakan MSCI yang menahan dana asing, memicu outflow hingga Rp15 triliun. Investor domestik berperan penting menyerap tekanan jual.
Maybank Sekuritas mempertahankan target IHSG di level 8.400 pada akhir 2026 meskipun MSCI memperpanjang penghentian sementara saham Indonesia hingga Mei 2026.
Tekanan dari sentimen MSCI dan pelemahan rupiah mendorong koreksi terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pengumuman MSCI memicu tekanan jual jangka pendek pada IHSG, terutama saham dengan free float rendah. Investor disarankan fokus pada fundamental saham.
Saham undervalued muncul di tengah tekanan IHSG akibat sentimen global dan konflik Timur Tengah. Investor disarankan akumulasi saham berprospek positif.