Bank Indonesia naikkan BI rate 50 bps, apa dampaknya ke perekonomian?
Bank Indonesia menaikkan BI Rate 50 bps ke 5,25% untuk mengatasi ketidakpastian global dan menjaga stabilitas rupiah, meski berisiko menahan pertumbuhan ekonomi.
Bank Indonesia menaikkan BI Rate 50 bps ke 5,25% untuk mengatasi ketidakpastian global dan menjaga stabilitas rupiah, meski berisiko menahan pertumbuhan ekonomi.
Bank Indonesia diproyeksikan menaikkan BI Rate pada Mei 2026 untuk mengatasi pelemahan rupiah dan tekanan eksternal. Ekonom memprediksi kenaikan 25-50 bps.
IHSG pekan depan diprediksi volatil, dipengaruhi rilis data ekonomi seperti inflasi dan PDB. Sentimen global dan harga minyak juga berperan penting.
IHSG memasuki Mei dengan sentimen “sell in May” di tengah ketidakpastian global dan isu MSCI, meski ada peluang rebound jika sentimen membaik.
Reformasi pasar modal Indonesia meningkatkan transparansi dan daya tahan IHSG. Meski tekanan global ada, sejarah menunjukkan IHSG pulih cepat.
IHSG turun 6,61% dalam sepekan, menghapus Rp899 triliun market cap. Meski volume transaksi naik, nilai transaksi harian turun.
Analis menilai buyback dapat meredam penurunan harga saham dan tingkatkan kepercayaan investor, namun efektivitasnya tergantung likuiditas & fundamental emiten.
Kalbe Farma akan buyback saham senilai Rp500 miliar mulai 2 April-2 Juli 2026 untuk menjaga stabilitas harga saham KLBF di tengah fluktuasi pasar.
IHSG tertekan akibat sentimen negatif AS, investor ritel disarankan berhati-hati menghadapi volatilitas pasar dan mempertimbangkan strategi wait and see.
Sejumlah saham royal dividen dinilai masih menarik diakumulasi saat ini di tengah indeks high dividend 20 yang memiliki kinerja positif.