Tekanan saham big caps, IHSG rawan uji level psikologis 6.000 hari ini (21/5)
IHSG berpotensi uji level 6.000 akibat tekanan saham big caps, sentimen negatif global, dan kebijakan domestik. Investor disarankan pantau arus dana asing.
IHSG berpotensi uji level 6.000 akibat tekanan saham big caps, sentimen negatif global, dan kebijakan domestik. Investor disarankan pantau arus dana asing.
IHSG dibuka melemah 1,21% ke 6.020 pada 22 Mei 2026, dipicu minimnya katalis positif dan sentimen negatif eksternal, serta koreksi saham big caps seperti BBCA dan TPIA.
Bank Indonesia memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga 3,50%-3,75% hingga 2026, dengan kemungkinan kenaikan pada 2027 karena inflasi AS yang tinggi.
Rupiah melemah ke Rp17.237 per dolar AS pada 28 April 2026, dipicu ekspektasi hawkish The Fed dan ketidakpastian geopolitik Timur Tengah.
Indeks Bisnis-27 ditutup melemah 0,50% ke 498,23 pada 20 April 2026, dipicu penurunan saham AMRT, BRPT, dan MAPI, di tengah ketegangan geopolitik global.
Indeks Bisnis-27 dibuka menguat 0,18% ke 502,66 pada 20 April 2026, dipimpin saham DSNG, TLKM, dan PGEO. Sentimen positif pasar global mendukung penguatan ini.
Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi tiga jalur transmisi dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi Indonesia: finansial, harga komoditas, dan perdagangan.
IHSG dibuka melemah 1,17% tertekan sentimen perang global akibat gagalnya perundingan damai AS-Iran. Saham big caps seperti BBCA dan BBRI turut terkoreksi.
Analis menilai buyback dapat meredam penurunan harga saham dan tingkatkan kepercayaan investor, namun efektivitasnya tergantung likuiditas & fundamental emiten.
Kemenkeu optimistis ekonomi Indonesia tumbuh 5,5% pada 2026, meski Bank Dunia memproyeksikan 4,7%, didukung konsumsi, investasi, dan sektor pertanian.