Masuki Mei, IHSG dibayangi sentimen sell in May

Ifonti.com , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki bulan Mei dengan bayang-bayang klasik pasar sell in May and go away di tengah kondisi global yang rapuh dan ketidakpastian yang belum mereda, kendati pasar saham Indonesia sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto mengatakan memasuki Mei, sentimen global yang belum stabil membuat idiom sell in May kembali diperhitungkan pelaku pasar. Ketidakpastian terkait review dan isu market accessibility oleh MSCI menjadi salah satu faktor utama yang membebani IHSG.

“Memasuki Mei, idiom sell in May and go away tentu kembali relevan karena sentimen global masih rapuh dan isu MSCI belum sepenuhnya selesai, sehingga volatilitas berpotensi tetap tinggi.

: IHSG Sepekan Turun 2,42% ke 6.956, Kapitalisasi Pasar Bursa Menguap Rp354 Triliun

Secara year to date (ytd), kinerja IHSG tercatat sebagai salah satu yang terburuk dengan penurunan mencapai 19,6%. IHSG juga masuk dalam jajaran indeks saham dengan performa terlemah di kawasan, hanya lebih baik dibandingkan pasar saham Filipina yang mengalami tekanan lebih dalam.

Koreksi tajam ini terjadi setelah reli panjang sepanjang 2025 hingga awal 2026, ketika indeks bahkan sempat menyentuh level all time high di kisaran 9.134.

: : Rapor IHSG April 2026 Tinggalkan 7.000, Saham EMAS-ADRO Masih Cuan

IHSG juga masuk dalam jajaran indeks saham dengan performa terlemah di kawasan, hanya lebih baik dibandingkan pasar saham Filipina yang mengalami tekanan lebih dalam.

Penguatan signifikan tersebut didorong oleh spekulasi pada saham-saham konglomerasi, terutama terkait narasi masuknya Indonesia dalam indeks global MSCI. Namun, seiring berjalannya waktu, euforia tersebut mulai mereda dan pasar berbalik arah.

: : Pilah-pilih Saham Diskon kala Valuasi IHSG Murah Meriah

Memasuki Mei, sentimen global yang belum stabil membuat idiom sell in May kembali diperhitungkan pelaku pasar. Ketidakpastian terkait review dan isu market accessibility oleh MSCI menjadi salah satu faktor utama yang membebani IHSG.

Selain itu, arus dana asing yang masih cenderung keluar turut menekan pergerakan indeks. Investor juga dihadapkan pada sensitivitas tinggi terhadap pergerakan dolar AS, arah suku bunga global, hingga konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang mendorong harga minyak tetap tinggi.

Kombinasi faktor tersebut membuat arah IHSG sepanjang tahun ini dinilai masih sulit diprediksi. Volatilitas berpotensi tetap tinggi, terutama dalam jangka pendek.

Meski demikian, tekanan yang sudah cukup dalam membuka peluang teknikal bagi pasar untuk melakukan konsolidasi, bahkan attempted rebound. Dalam beberapa hari terakhir, IHSG mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah penurunan tajam dari puncaknya.

Di tengah ketidakpastian, Rully menyebut masih terdapat optimisme bahwa IHSG berpeluang kembali menembus level 9.000 hingga akhir tahun, dengan catatan sentimen global mereda dan aliran dana asing kembali masuk.

_____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.