IHSG Sesi I Ambles 4,95%, Terparkir di Level 5.889,49
IHSG sesi I turun 4,95% ke 5.889,49 akibat koreksi saham besar. Investor fokus pada stabilitas rupiah dan kebijakan The Fed.
IHSG sesi I turun 4,95% ke 5.889,49 akibat koreksi saham besar. Investor fokus pada stabilitas rupiah dan kebijakan The Fed.
Sejumlah saham konglomerat Indonesia seperti BREN, RAJA, dan EMAS memimpin penguatan IHSG sesi I dengan kenaikan signifikan.
Sejumlah saham konglomerat Indonesia berisiko ARB setelah rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026. Nasibnya bergantung pada daya serap pasar terhadap saham yang dilepas.
Sejumlah saham konglomerat mengalami penurunan signifikan seiring kejatuhan IHSG. Meski begitu analis menilai belum ada risiko trading halt yang terdeteksi.
Saham konglomerasi seperti BREN dan BNBR memimpin penguatan IHSG pekan ini, naik 175,50 poin, dengan BREN berkontribusi terbesar sebesar 30,44 poin.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menampilkan data kepemilikan saham dengan konsentrasi tinggi, dengan saham BREN, DSSA hingga LUCY termasuk dalam kategori ini.
IHSG sesi I turun 3,49% pada 9 Maret 2026, dipicu sentimen negatif global dan domestik, menyebabkan saham konglomerat Indonesia melemah. Fitch Ratings revisi outlook utang Indonesia jadi negatif.
Menjelang musim dividen 2026, rotasi sektoral ke emiten tambang dan perbankan yang rutin membagikan dividen menjadi opsi menarik bagi investor.
IHSG sesi I terkoreksi 0,16% ke 8.261,15, saham konglomerat melemah. Bank Indonesia tahan suku bunga, RI-AS teken kesepakatan US$38,4 miliar.
IHSG naik 0,89% ke 8.285 pada sesi I, saham konglomerat seperti RATU, BUMI, dan CDIA menguat. Investor menanti risalah FOMC dan perjanjian dagang RI-AS.