Investor selektif di tengah gejolak, IPO diproyeksi bergeliat semester II/2026
Aktivitas IPO di Indonesia diproyeksikan meningkat pada semester II/2026, meski tantangan global dan regulasi ketat membuat perusahaan lebih selektif.
Aktivitas IPO di Indonesia diproyeksikan meningkat pada semester II/2026, meski tantangan global dan regulasi ketat membuat perusahaan lebih selektif.
Konflik Iran memicu aksi jual di bursa saham AS, dengan S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones melemah akibat lonjakan harga minyak dan volatilitas ekonomi global.
Sekuritas aktif mengumpulkan calon emiten untuk IPO di tengah penguatan IHSG. OCBC dan Samuel Sekuritas menargetkan perusahaan dari sektor teknologi, logistik, dan FMCG. BEI mencatat tujuh perusahaan dalam pipeline IPO, dengan sektor keuangan memimpin.
Samuel Sekuritas menargetkan 5 perusahaan dari sektor keuangan, farmasi, retail, teknologi, dan komoditas untuk IPO di BEI pada 2026.
Enam perusahaan besar siap IPO di BEI akhir tahun 2025, berasal dari sektor material, energi, finansial, teknologi, dan transportasi. Total 9 perusahaan dalam pipeline.
Wall Street menguat didorong reli saham teknologi, dengan S&P 500 naik 0,60% dan Nasdaq 0,55%.
Sektor konsumer dan properti absen dari pipeline IPO akhir 2025, sementara sektor finansial mendominasi. BEI mencatat 26 perusahaan baru dengan total dana Rp18,11 triliun.
Wall Street melemah akibat data ekonomi AS yang mengecewakan, investor menunggu sinyal kebijakan The Fed. Indeks utama turun, sektor energi tertekan.
IHSG berpotensi tembus 9.000 akhir 2025, namun dibayangi kebijakan The Fed. Investor disarankan buy on weakness pada saham fundamental kuat.
Wall Street menguat setelah The Fed memangkas suku bunga 25 basis poin, dengan mayoritas sektor S&P 500 naik. Proyeksi PDB AS 2026 naik jadi 2,3%.