Kenaikan BI rate buka peluang capital inflow ke obligasi
Kenaikan BI Rate ke 5,25% diprediksi meningkatkan daya tarik investasi di pasar obligasi, memicu capital inflow ke instrumen pendapatan tetap SBN.
Kenaikan BI Rate ke 5,25% diprediksi meningkatkan daya tarik investasi di pasar obligasi, memicu capital inflow ke instrumen pendapatan tetap SBN.
Kenaikan BI Rate mendorong emiten lebih selektif dalam ekspansi dan penambahan utang, dengan fokus pada menjaga kualitas neraca keuangan & stabilitas arus kas.
DPRD Jatim menyoroti ketimpangan dividen BUMD terhadap PAD, di mana Bank Jatim mendominasi 86%, sementara BUMD lain minim kontribusi, menunjukkan ketergantungan tinggi pada sektor perbankan.
MSCI memperpanjang pembekuan saham Indonesia hingga Mei 2026, menahan kenaikan bobot indeks. Namun, peluang investasi tetap ada di sektor energi, telekomunikasi, dan perbankan.
Ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan ekspektasi inflasi terkendali meski ada konflik geopolitik. The Fed masih wait and see sambil memantau risiko ekonomi.
IHSG turun 1,6% akibat konflik AS-Iran, sementara saham ANTM, BRMS, dan EMAS naik. Investor diimbau tetap tenang dan fokus pada analisis fundamental.
Bank Indonesia menahan suku bunga di 4,75%, membuka peluang sektor saham konsumsi, ekspor, dan energi untuk cuan di tengah volatilitas pasar.
Dividen jumbo emiten blue chip belum cukup menahan arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia, meski prospek fundamental tetap solid di 2025.
IHSG ditutup melemah 1,37% ke 8.895 karena aksi profit taking dan pelemahan rupiah. Pasar menanti intervensi BI dan stabilitas fiskal untuk menahan outflow.
Indeks Bisnis-27 naik 0,79% didorong saham ADMR, ADRO, ASII. IHSG menguat 0,12% meski tertekan sentimen global dan pelemahan rupiah.