
Ifonti.com JAKARTA — Keputusan Morgan Stanley Capital International atau MSCI memperpanjang pembekuan atau freeze terhadap saham Indonesia hingga evaluasi Mei 2026 menahan potensi kenaikan bobot indeks. Namun di balik kebijakan yang terkesan menahan laju tersebut, justru muncul sejumlah peluang menarik bagi investor.
Head of Research Maybank Sekuritas, Jeffrosenberg Chenlim memproyeksikan sentimen tersebut dapat berimbas terhadap ruang kenaikan dari sisi aliran dana global yang terbatas, tetapi potensi pertumbuhan berbasis fundamental masih terbuka.
Dia bahkan melihat peluang jangka pendek terhadap sejumlah saham.
“Di sektor energi, emiten seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. [AADI] dan PT Indika Energy Tbk. [INDY] diperkirakan diuntungkan dari ketatnya pasokan batu bara global,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Sementara itu, sektor telekomunikasi juga menawarkan katalis menarik. Saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) dinilai memiliki potensi dari sinergi merger yang dapat meningkatkan efisiensi dan profitabilitas dalam jangka menengah.
: OJK Beberkan Hasil Pertemuan dengan MSCI, Ini Poin-poinnya
Di sektor perbankan, PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) menjadi salah satu pilihan menarik karena valuasinya yang masih relatif murah dibandingkan bank besar lainnya, dengan fundamental tetap solid.
Adapun, sambungnya, dari sisi kebijakan pemerintah, program Makan Bergizi Gratis atau MBG juga membuka peluang bagi emiten seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JFPA) yang berpotensi menikmati peningkatan permintaan.
Jeffrosenberg menilai keputusan MSCI kali ini bukan sekadar penundaan biasa. Kebijakan ini disebut sebagai asymmetric freeze, di mana kenaikan bobot saham Indonesia di indeks ditahan, tetapi penurunan tetap dimungkinkan.
MSCI tidak akan menaikkan Foreign Inclusion Factor (FIF) maupun jumlah saham yang dihitung dalam indeks. Selain itu, tidak ada penambahan saham baru maupun kenaikan kelas kapitalisasi. Konsekuensinya, aliran dana masuk atau inflow dari investor global menjadi terbatas, sehingga dorongan kenaikan valuasi dari faktor teknikal juga tertahan.
Meski peluang tetap ada, lanjutnya, risiko juga belum sepenuhnya hilang. Menurutnya MSCI masih dapat mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), hingga menurunkan estimasi free float berdasarkan aturan baru keterbukaan pemegang saham di atas 1%.
Sejumlah saham yang masuk radar risiko antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), hingga beberapa emiten lainnya yang tercatat dalam daftar HSC Bursa Efek Indonesia.
Namun demikian, lanjutnya, di tengah dinamika tersebut, satu kabar baik terkait dengan risiko Indonesia turun ke kategori frontier market semakin mengecil. Hal ini menjadi penopang sentimen positif, terutama bagi investor jangka panjang.
Dia mencermati dengan langkah reformasi yang dilakukan regulator, mulai dari peningkatan transparansi hingga perbaikan struktur pasar, dipandang sebagai fondasi penting untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata global.
“Karena keputusan ini sudah banyak diperkirakan, dampaknya terhadap saham-saham besar atau bluechips dan konglomerasi diperkirakan terbatas, kecuali saham yang masuk daftar HSC,” terangnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.