Terawangan baru soal IHSG, Purbaya yakin bisa tembus level 28.000

Ifonti.com – , JAKARTA — Prospek pasar saham Indonesia dinilai masih terbuka lebar seiring penguatan ekonomi domestik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang naik hingga empat kali lipat dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan posisi IHSG saat ini di kisaran 7.000, ia memperkirakan indeks bisa mencapai 28.000 pada periode 2029–2030 seiring berlanjutnya fase ekspansi ekonomi.

“Dari titik terendah sampai puncak ekspansi bisa 4–5 kali. Sekarang sekitar 7.000, bisa saja 28.000,” ujar Purbaya di sela-sela peluncuran program Pintar Reksa Dana dan Pekan Reksa Dana 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin (27/4/2026).

Ia menilai, pergerakan pasar saham tidak lepas dari kekuatan fundamental ekonomi. Karena itu, pemerintah saat ini fokus mempercepat pertumbuhan agar keluar dari tren stagnan di kisaran 5 persen.

Sejumlah langkah ditempuh, mulai dari penguatan proyek-proyek strategis hingga pemberian peran lebih besar kepada Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam mengawal program prioritas. Pemerintah juga membentuk satuan tugas untuk mengatasi hambatan pertumbuhan.

Dari sisi fiskal, perbaikan mulai terlihat. Penerimaan pajak pada kuartal I 2026 tumbuh sekitar 20 persen, memberikan ruang bagi pemerintah untuk mendorong aktivitas ekonomi.

Purbaya mencontohkan lonjakan IHSG pada awal 2000-an yang meningkat tajam dalam satu dekade. Menurut dia, pola tersebut dapat terulang jika momentum pertumbuhan terjaga.

“Di tengah gejolak global, kita masih bisa menjaga pertumbuhan domestik. Ini akan berlanjut,” ujarnya.

Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (29/1/2026). – (Republika/Thoudy Badai)

Namun, ia mengingatkan penguatan pasar saham tidak terjadi secara otomatis. Pendalaman pasar keuangan dinilai menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas, terutama untuk memperbesar peran investor domestik.

Pemerintah juga membuka peluang pemberian insentif bagi pasar modal, dengan syarat program peningkatan partisipasi investor berjalan efektif dalam beberapa bulan ke depan.

Bagi masyarakat, terutama investor ritel, optimisme ini memberi peluang, tetapi tetap menuntut kehati-hatian. Kinerja pasar saham, menurut Purbaya, akan tetap mengikuti arah ekonomi nasional.

Pemerintah membidik pertumbuhan ekonomi lebih tinggi pada awal 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut laju ekonomi pada semester pertama berpeluang menembus 5,5 persen.

“Triwulan I mungkin akan tumbuh 5,5 persen ke atas. Triwulan kedua juga seperti itu,” ujar Purbaya di kesempatan yang sama.

Target ini menjadi sinyal pemerintah ingin keluar dari tren pertumbuhan di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir. Untuk mengejar itu, pemerintah mulai memperkuat mesin penggerak ekonomi, dari belanja negara hingga proyek-proyek strategis.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah pembentukan satuan tugas percepatan program pemerintah yang dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. Satuan tugas ini ditugaskan membongkar hambatan yang selama ini menahan laju pertumbuhan.

Di sisi fiskal, Kementerian Keuangan juga membenahi kinerja penerimaan. Reformasi di Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai mulai berdampak pada peningkatan penerimaan negara. Pada Maret 2026, penerimaan pajak tercatat tumbuh sekitar 20 persen.

Bagi masyarakat, dorongan ini diharapkan terasa pada meningkatnya aktivitas ekonomi, terutama di sektor riil. Pemerintah juga membuka ruang percepatan belanja kementerian dan lembaga agar aliran dana lebih cepat masuk ke perekonomian.

Purbaya menilai momentum masih terbuka, mengingat realisasi anggaran pada awal tahun belum sepenuhnya optimal. Dengan percepatan belanja dan stimulus yang tepat, pertumbuhan diyakini bisa terdorong lebih tinggi.

“Kalau sebelumnya pertumbuhan sekitar 5 persen, ke depan kita harapkan bisa lebih cepat,” ujarnya.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 dapat mencapai sekitar 5,7 persen. Angka ini diharapkan menjadi pijakan untuk menjaga tren positif hingga akhir tahun, sekaligus memberi ruang peningkatan kesejahteraan masyarakat.