Risalah FOMC The Fed: Ketidakpastian geopolitik geser arah kebijakan moneter AS
Risalah FOMC The Fed menunjukkan ketidakpastian geopolitik, khususnya konflik Timur Tengah, mempengaruhi kebijakan moneter AS dengan risiko inflasi dan ekonomi.
Risalah FOMC The Fed menunjukkan ketidakpastian geopolitik, khususnya konflik Timur Tengah, mempengaruhi kebijakan moneter AS dengan risiko inflasi dan ekonomi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan rawan ambrol dengan peringatan dari lembaga-lembaga pemeringkat global.
Mahkamah Agung AS membatalkan tarif Trump, memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pelemahan dolar, sedangkan pasar saham bergerak moderat.
Pemerintah targetkan Rp33 triliun dari lelang Surat Utang Negara pada 18 Februari 2026, melibatkan 9 jenis SUN. Lelang terbuka bagi investor melalui dealer utama.
Outlook negatif Moody’s untuk Indonesia menekan minat IPO dan rights issue, meningkatkan risiko pasar modal dan biaya pendanaan. IHSG sulit kembali ke level 9.000.
IHSG melemah 4,73% ke level 7.935,26 dan kapitalisasi pasar BEI turun menjadi Rp14.341 triliun selama pekan 2-6 Februari 2026.
Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell, memicu spekulasi pasar keuangan. Warsh dikenal “hawkish” dan kritis terhadap kebijakan fiskal AS.
Konflik Trump dan The Fed memicu sentimen “Sell America”, menekan dolar dan aset AS. Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran atas independensi kebijakan moneter.
Isyarat The Fed melakukan penghentian kebijakan quantitative tightening (QT) per 1 Desember 2025 menjadi katalis positif bagi aset berisiko seperti kripto
Bank Indonesia membuka akses repo obligasi korporasi untuk memperkuat likuiditas pasar dan mendukung pembiayaan sektor riil, meski ada risiko gagal bayar.