Bank Mandiri (BMRI) bagikan dividen tunai Rp44,47 triliun
Bank Mandiri membagikan dividen tunai Rp44,47 triliun dari laba 2025, setara 79% dari laba bersih.
Bank Mandiri membagikan dividen tunai Rp44,47 triliun dari laba 2025, setara 79% dari laba bersih.
Bank Indonesia melihat peluang pertumbuhan kredit di sektor pertanian, jasa, konstruksi, dan transportasi untuk mendorong ekonomi tanpa memicu inflasi.
Superbank soroti lesunya permintaan kredit meski BI genjot intermediasi lewat Pinisi. Ketidakpastian global buat pelaku usaha berhati-hati.
Survei BI mencatat kredit baru tumbuh 38,74% di awal 2026, melambat dari 2025, didominasi sektor konsumsi.
Bank BRI dan Bank Mandiri berencana membagikan dividen lebih besar di tahun 2025, meski ketidakpastian global mengancam. Mereka fokus pada pertumbuhan kredit berkualitas dan efisiensi operasional untuk menjaga kinerja.
Rights issue tetap prospektif meski pasar saham fluktuatif, menawarkan fleksibilitas pendanaan tanpa menambah utang. Timing dan fundamental kuat penting bagi keberhasilan.
Bank Indonesia menyatakan likuiditas perbankan melimpah, namun pertumbuhan kredit belum optimal karena lemahnya permintaan dan tingginya suku bunga.
Calon emiten IPO di Indonesia menunda aksi karena kondisi pasar yang tidak stabil dan regulasi ketat. Hingga Februari 2026, belum ada IPO baru di BEI.
Pada Januari 2026, BI melaporkan penurunan suku bunga kredit dan simpanan, dengan suku bunga kredit rata-rata 8,79% dan suku bunga simpanan berjangka turun di berbagai tenor.
BI mencatat pemanfaatan KLM baru 4,83% dari DPK dan masih ada ruang 0,7% untuk menekan bunga kredit.