Data saham buruan investor kakap bakal dibuka, waspadai herding behavior

Ifonti.com JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana membuka data shareholders concentration list atau daftar saham yang terindikasi memiliki pemegang saham yang terkonsentrasi. Dengan dibukanya deretan saham buruan investor kelas kakap itu, ada kekhawatiran membuat investor ritel menjadi fomo.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menilai BEI perlu memastikan data yang akan dibuka publik itu mudah dipahami. Adapun, saat ini otoritas bursa sedang mengkaji metodologinya dan belum menetapkan output datanya akan seperti apa.

“Yang penting itu mudah dipahami, seperti misalnya persentase kepemilikan pihak terkait, dan terdapat identitas kelompok dan free float secara riil. Itu sangat esensial. Syukur-syukur kalau ditambahkan frekuensi transaksi pada konsentrasi tersebut,” kata Nafan kepada Bisnis, Kamis (12/2/2026).

Nafan mengingatkan, saat ini investor saham di Indonesia belum semuanya teredukasi. Menurutnya, beberapa perubahan penyajian data dan transparansi yang sekarang disiapkan BEI tidak akan jadi masalah bagi investor yang memiliki pengetahuan mumpuni soal pasar modal.

“Kalau yang kurang teredukasi pasti ada potensi fomo. Pasti mereka akan terjebak di saham yang likuiditasnya rendah. Itu dinamikanya,” jelasnya.

Di pasar saham, dikenal istilah herding behavior. Secara sederhana, herding behavior dapat diartikan sebagai kecenderungan investor—terutama investor ritel—untuk meniru tindakan tindakan kelompok tertentu, investor kakap, ataupun sekuritas tertentu tanpa analisis yang mendalam. Herding behavior seringkali didorong oleh perasaan takut ketinggalan momentum alias fear of missing out (FOMO).

: Investor Asing Terus Keluar dari Pasar Saham, Net Sell Sentuh Rp14,46 Triliun

Secara umum, Nafan menilai apa yang dilakukan BEI saat ini sangat positif membantu para investor pasar modal. Dengan transparansi, investor ritel dapat dengan mudah membaca informasi secara spesifik dan semakin membuat berhati-hati dalam berinvestasi.

“Bahwa ternyata saham bisa gampang disetir [dipengaruhi sentimen-sentimen]. Ini bisa mencegah mereka masuk ke perangkap saham yang tidak likuid tadi,” tandasnya.

Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai BEI idealnya membuka daftar persentase kepemilikan kumulatif 20 pemegang saham teratas, bukan cuma yang lebih dari 5%. Menurutnya, informasi yang diperlukan investor adalah ultimate beneficial owner (UBO), atau Pemilik Manfaat Akhir.

Adapun, pembukaan data shareholders concentration list ditargetkan BEI dapat dimulai akhir Februari ini atau awal Maret 2026. Saat transparansi dijalankan, Wafi melihat ada dampak jangka pendek yang perlu diantisipasi.

“Dalam jangka pendek bisa panic selling atau fomo. Tapi, dalam jangka panjang hal ini positif karena transparansi ini penting buat mencegah manipulasi harga,” ujar Wafi.

Sebagai saran untuk investor ritel, Wafi menyarankan agar menjadikan data itu sebagai filter risiko, bukan sebagai sinyal beli. Dia juga menyarankan agar investor ritel menghindari saham dengan konsentrasi kepemilikan lebih dari 80% oleh segelintir pihak, tetapi fokus ke saham dengan distribusi kepemilikan publik yang merata.