Harga buyback emas Antam melesat dekati rekor Selasa (6/1/2026)

Ifonti.com – , JAKARTA — Harga buyback emas Antam mengalami kenaikan hingga mendekati rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada Selasa (6/1/2026).

Berdasarkan data Logam Mulia Selasa (6/1/2026), harga buyback emas Antam naik Rp34.000 ke Rp2.405.000. Kenaikan itu membuat harga acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) mendekati rekor ATH.

Sebagaimana diketahui, harga buyback emas Antam memecahkan rekor ATH di Rp2.464.000 pada 28 Desember 2025. Dari situ, pergerakan harga sempat terkoreksi.

: Ramalan Nasib Pergerakan Harga Emas Pekan Kedua Januari 2026

Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.

Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.

: : Para Pembeli Emas Antam yang Masih Gigit Jari Awal Januari 2026

Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.

Adapun, pergerakan harga buyback emas Antam juga sejalan dengan harga emas di pasar global.

: : Meledak! Berikut Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri24 Hari Ini, Selasa 6 Januari 2026

Diberitakan Bisnis sebelumnya, harga emas di pasar spot naik 2,7% menjadi US$4.444,52 per ons pada Selasa (6/1/2026), setelah sebelumnya mencatat level tertinggi sejak 29 Desember 2025. Harga emas menembus rekor tertinggi sepanjang masa di US$4.549,71 per ons pada 26 Desember 2025. 

Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari 2026 tercatat naik 2,8% menjadi US$4.451,5 per ons.

“Situasi di sekitar Venezuela jelas telah menghidupkan kembali permintaan safe-haven, tetapi hal ini juga dipicu oleh kekhawatiran yang sudah ada terkait geopolitik, pasokan energi, dan kebijakan moneter,” kata Alexander Zumpfe, pedagang logam mulia di Heraeus Metals Jerman.

Tahun lalu, emas mencatat kenaikan 64%, didorong oleh titik panas geopolitik dan siklus pelonggaran suku bunga The Fed. Ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut, ditambah pembelian bank sentral dan arus dana ETF, semakin menopang harga emas.

AS menyerang Venezuela dan menggulingkan Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (4/1/2026), menandai intervensi Washington paling langsung di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989.

Presiden Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan tambahan jika Caracas menolak upaya AS membuka industri minyaknya dan menghentikan perdagangan narkoba, serta menyinggung kemungkinan tindakan terhadap Kolombia dan Meksiko terkait aliran narkoba ilegal.

Emas dikenal sebagai penyimpan nilai yang tangguh, terutama di lingkungan suku bunga rendah, karena tidak memberikan imbal hasil.

“Lonjakan menuju rekor baru kemungkinan akan terjadi jika ketegangan geopolitik meluas atau data AS yang akan datang memperkuat ekspektasi bahwa The Fed harus lebih agresif melonggarkan kebijakan moneter dibandingkan harga yang tercermin saat ini,” ujar Zumpfe.