
Ifonti.com – , JAKARTA — Harga buyback emas Antam telah mengalami kenaikan 16,14% untuk periode berjalan 2026 hingga Rabu (11/2/2026).
Berdasarkan data Logam Mulia Rabu (11/2/2026), harga buyback emas Antam belum mampu keluar dari trend sideways sejak awal Februari 2026.
Harga buyback emas Antam kembali terkoreksi Rp7.000 ke Rp2.741.000 pada Rabu (11/2/2026). Pergerakan harga acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) itu telah berkutat di level Rp2.700.000 sejak awal bulan ini.
: Harga Emas Kokoh di Level US$5.000 saat Data Ritel AS Lesu
Kendati demikian, harga buyback emas Antam tercatat telah mengalami kenaikan 16,14% untuk periode berjalan 2026.
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
: : Pergerakan Harga Emas Hari Ini Rabu, 11 Februari 2026 di Pasar Spot
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
: : Harga Emas Antam Hari Ini 11 Februari 2026, Turun Jadi Rp2,94 Juta per Gram
Adapun, harga buyback emas Antam mengikuti pergerakan mahar logam mulia di pasar global.
Dilaporkan Bisnis sebelumnya, harga emas bergerak di zona hijau pada awal perdagangan hari ini, Rabu (11/2/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot menguat 0,34% atau 17,04 poin ke posisi US$5.042,49 per troy ons pada pukul 06.18 WIB.
Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS kontrak April 2026 terpantau menguat 0,47% atau 23,4 poin ke level US$5.054,4 per troy ons.
Pada perdagangan sebelumnya, harga emas bergerak fluktuatif di kisaran level psikologis US$5.000 saat investor menilai apakah pasar telah menemukan titik keseimbangan baru setelah aksi jual besar-besaran pada pekan sebelumnya.
Sejak mencapai rekor tertinggi pada 29 Januari, harga emas telah terkoreksi sekitar 10%. Meski demikian, logam mulia ini masih mempertahankan kinerja positif yang kuat sepanjang tahun berjalan.
Reli logam mulia yang sebelumnya didorong permintaan spekulatif terhenti secara tiba-tiba pada akhir Januari, ketika perak mencatatkan penurunan harian terdalam sepanjang sejarah dan emas mengalami kejatuhan terbesar sejak 2013.
Namun, berbagai faktor fundamental yang menopang reli jangka panjang seperti peningkatan ketegangan geopolitik, masifnya pembelian bank sentral, hingga tren suku bunga rendah masih tetap relevan.
Dalam catatannya, Kepala Investasi Manajemen Kekayaan Global UBS Group AG, Mark Haefele, menilai bahwa volatilitas belakangan ini sempat memicu keraguan terhadap fungsi emas sebagai aset lindung nilai. Meski demikian, UBS memandang kekhawatiran tersebut berlebihan dan memperkirakan tren penguatan harga emas akan kembali berlanjut.
Optimisme terhadap pemulihan harga emas juga didukung sejumlah bank dan pengelola aset besar, termasuk Deutsche Bank AG dan Goldman Sachs Group Inc.
Ketahanan permintaan resmi tercermin dari langkah bank sentral China yang memperpanjang aksi pembelian emas hingga 15 bulan berturut-turut pada Januari.
Selain itu, Kevin Warsh, kandidat Ketua Federal Reserve pilihan Presiden Trump, dikenal sebagai pendukung kebijakan suku bunga rendah. Dikombinasikan dengan risiko geopolitik yang masih tinggi, faktor tersebut diperkirakan akan terus menopang harga emas, meskipun kekhawatiran jangka panjang terhadap nilai dolar AS berpotensi mereda.
Hingga akhir pekan ini, perhatian pasar tertuju pada rilis data ekonomi AS yang diperkirakan memberikan sinyal baru terkait arah kebijakan moneter The Fed.
Laporan ketenagakerjaan nonfarm payroll Januari yang dirilis hari ini diproyeksikan menunjukkan pasar tenaga kerja mulai stabil, sementara data inflasi dijadwalkan menyusul pada Jumat.