
Ifonti.com – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghadapi tekanan. Berdasarkan pantauan Kontan, Kamis (4/6/2026) pukul 10.06 WIB, IHSG berada di level 5.665,487 atau anjlok 4,64% dibanding penutupan Rabu (3/6/2026).
Dengan tren IHSG yang terjadi, investor diminta memilih saham dengan fundamental baik ke portofolio investasinya.
M. Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia mengatakan, secara teknikal, IHSG sejatinya sudah dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI meskipun downtrend masih terjadi.
Sementara itu, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif, namun volume mulai menguat. Dengan kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor dapat selektif dalam memilih saham dengan fundamental baik.
IHSG Makin Merana, Saham CUAN, BRPT, SCMA Anjlok Dua Digit
“Fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid; fokus pada saham bervaluasi murah; fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan; gunakan manajemen risiko dengan disiplin,” ujar Nafan dalam risetnya, Kamis (4/6/2026).
Ia bilang, aksi jual investor asing masih berlanjut, di mana kemarin telah mencatatkan net sell sekitar Rp 864 miliar, menambah akumulasi tekanan pada berbagai saham berkapitalisasi besar.
Sentimen dari perilisan peringkat Baa2 (investment grade) dari Moody’s terhadap Danantara Investment Management (DIM), namun outlook-nya negatif, dimana probabilitas penurunan rating dalam horizon ke depan meningkat bila faktor risiko tidak membaik, tentunya langsung direspons negatif oleh para pelaku pasar, sehingga memicu aksi jual masif yang membuat IHSG turun signifikan.
Hal ini juga menyebabkan rupiah bergerak melemah drastis dan akhirnya tembus ke Rp 18.000 per dolar AS pada oagi ini, yang memicu kekhawatiran fiskal dan menekan stabilitas pasar keuangan domestik.
Di sisi lain, para pelaku investor juga mengantisipasi sentimen jangka pendek dari realisasi rebalancing indeks global seperti FTSE Russell yang akan efektif pada 22 Juni 2026, turut mempengaruhi pergerakan dana pasif asing yang langsung menyesuaikan portofolionya.
Rupiah Pertama Kali Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Terus Melemah ke Rp 18.029
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, indeks melemah meskipun terjadi kenaikan di pasar Asia lainnya, di tengah tekanan jual yang kuat pada beberapa saham terkait konglomerat dan sentimen pasar negatif seputar rumor potensi penurunan peringkat kredit Indonesia oleh S&P dari stabil menjadi negatif.
Selain itu, depresiasi rupiah yang berkelanjutan memberikan tekanan penurunan lebih lanjut pada indeks.
“Kami memperkirakan IHSG akan bergerak dalam kisaran 5.884 – 5.967,” ucap Herditya.