
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks berbasis environmental, social, and governance (ESG) masih tertekan sepanjang tahun berjalan. Sejumlah indeks ESG seperti IDX ESG Leaders, Sri-Kehati, dan ESG Sector Leaders IDX KEHATI tercatat terkoreksi dalam sepanjang year-to-date (YtD).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan, menilai koreksi tersebut tidak terlepas dari tekanan makroekonomi global serta penyesuaian portofolio investor.
“Koreksi yang dalam ini mencerminkan tekanan global, namun sekaligus membuat valuasi saham-saham ESG menjadi jauh lebih atraktif, khususnya bagi investor jangka panjang,” ujarnya kepada Kontan, Senin (8/6/2026).
Memasuki semester II-2026, David melihat indeks ESG berpotensi memasuki fase konsolidasi untuk mencari titik keseimbangan baru.
Pertamina Geothermal (PGEO) Raih Pinjaman Jumbo untuk Panas Bumi, Ini Catatan Analis
Ia menyebutkan, sejumlah katalis dapat mendorong pemulihan kinerja indeks ESG ke depan. Di antaranya stabilitas nilai tukar rupiah, kejelasan arah kebijakan suku bunga, serta kinerja keuangan emiten yang solid.
Selain itu, percepatan implementasi bursa karbon, peluncuran insentif hijau dari pemerintah, hingga peningkatan standar pelaporan keberlanjutan juga dinilai dapat meningkatkan kepercayaan pasar.
Dari sisi global, David menilai tren investasi hijau masih akan tetap diminati dalam jangka panjang.
“Komitmen terhadap prinsip ESG bersifat struktural. Meski dalam jangka pendek investor lebih selektif, minat terhadap aset berkelanjutan tidak akan pudar,” jelasnya.
Ia menambahkan, investor global kini cenderung lebih fokus pada emiten ESG yang memiliki fundamental kuat, arus kas stabil, serta tata kelola yang baik.
Lebih lanjut, kebijakan dekarbonisasi dan transisi energi nasional dinilai berperan penting dalam menarik kembali aliran dana asing ke pasar domestik.
“Emiten yang memiliki roadmap transisi energi yang jelas akan menjadi incaran investor asing ketika sentimen risk-off mulai mereda,” tambahnya.
Menakar Efek Rencana Pembentukan Bursa Mineral Terhadap Emiten Produsen Minerba
Dari sisi sektoral, saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan telekomunikasi diperkirakan masih menjadi penopang utama indeks ESG. Selain itu, emiten di sektor energi terbarukan serta komoditas logam dasar seperti nikel dan tembaga juga berpeluang memimpin pemulihan.
Dalam kondisi pasar yang volatil, David menyarankan investor untuk menerapkan strategi akumulasi bertahap atau buy on weakness dengan horizon jangka menengah hingga panjang.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga likuiditas portofolio serta menghindari penggunaan margin dalam kondisi pasar yang belum stabil.
Sebagai pilihan, investor dapat mencermati saham-saham berbasis logam dasar yang memiliki eksposur pada tema transisi energi, seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO).