
Ifonti.com JAKARTA. Samuel Sekuritas menyarankan investor untuk memperbanyak kas dan aset pendapatan tetap (fixed income) di tengah lesunya pasar saham Tanah Air.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pukul 12.00 WIB ditutup melemah 2,53% di level 5.692,16 pada Jumat (5/6/2026).
Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Shim Tae Yong mengatakan, pasar saham Indonesia masih tertinggal di tengah penguatan pasar negara berkembang.
Shim mencatat, MSCI Emerging Market naik 22,5% secara year-to-date (YTD) per April 2026, lebih tinggi dibandingkan MSCI World yang naik 9,0%.
Adhi Karya (ADHI) Catat Nilai Kontrak Baru Rp 5 Triliun per April 2026
Namun, Indonesia justru mencatatkan pelemahan 29,1% YTD, menjadikannya salah satu pasar dengan kinerja terlemah dalam periode tersebut.
“Emerging market secara umum sedang bergerak positif, tetapi Indonesia justru bergerak berlawanan arah. Ini menunjukkan bahwa tekanan di pasar domestik masih cukup kuat,” ujarnya dalam Media Connect Samuel Sekuritas, Kamis (4/6/2026).
Menurut Shim, salah satu faktor yang membuat pasar Indonesia belum mampu pulih adalah masih adanya isu domestik yang menahan kepercayaan investor. Terutama, terkait perhatian MSCI terhadap aspek free float dan investability pasar saham Indonesia.
MSCI disebut masih menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham, keandalan data free float, serta jumlah saham yang benar-benar dapat diperdagangkan di pasar.
“Isu MSCI menjadi penting karena berdampak langsung pada persepsi investor global. Ketika transparansi free float dan investability masih dipertanyakan, investor cenderung menunggu bukti perbaikan sebelum kembali masuk lebih agresif ke pasar Indonesia,” jelasnya.
Kondisi pasar yang diselimuti sentimen negatif membuat investor harus mengurangi eksposur risiko di portofolio investasi mereka.
Rupiah Tak Hanya Loyo Terhadap Dolar AS Tapi Juga Mata Uang Global, Ini Saran Analis
Alokasi aset terbaik yang disarankan adalah 30% cash, 30% fixed income, 20% ekuitas, 15% kripto, dan 5% emas.
Untuk fixed income, sebaiknya memilih obligasi negara berjangka waktu singkat. Sementara, untuk ekuitas pilih saham emiten bluechips yang punya fundamental kuat.
Shim menambahkan, pasar Indonesia membutuhkan tiga prasyarat utama agar dapat mengalami re-rating, yaitu likuiditas, pertumbuhan laba korporasi, dan dukungan kebijakan yang kondusif.
Tekanan terhadap rupiah sebagai salah satu faktor risiko yang perlu dicermati. Rupiah disebut telah menembus level tertinggi sejak Krisis Finansial Asia, dengan grafik menunjukkan kisaran Rp16.650 hingga Rp17.874 per dolar Amerika Serikat (AS) berdasarkan harga penutupan 29 Mei 2026.
“Ini membuat investor asing juga semakin selektif, terutama terhadap aset berisiko di pasar domestik,” paparnya.
IHSG Anjlok 2,5% di Sesi Pertama Hari Ini (5/6), Top Losers LQ45: WIFI, PGAS, JPFA