Kinerja emiten infrastruktur masih loyo, simak prospek dan rekomendasi sahamnya

Ifonti.com JAKARTA. Kinerja emiten infrastruktur tampak masih lesu. Indeks IDX Infrastructures (IDXINFRA) bahkan kinerjanya tertinggal di antara indeks sektoral lain.

Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI) tanggal 16 April 2026, IDXINFRA turun 19% sejak awal tahun alias year to date (YTD). Sebagai perbandingan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hanya 11,86% YTD.

Gani, Analis OCBC Sekuritas melihat, penurunan kinerja IDXINFRA dikarenakan para emiten konstituen berbobot besar dalam indeks itu turun cukup dalam sejak awal tahun 2026. 

Misalnya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 34,79% YTD, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) turun 29,64% YTD, dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) -53,32% YTD.

Biaya dan Beban Bunga Membengkak, Profitabilitas Medikaloka Hermina (HEAL) Tertekan

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, penurunan IDXINFRA disebabkan koreksi setelah reli luar biasa indeks tersebut hingga 71,51% di tahun 2025 yang membuat valuasi sebagian konstituen sudah premium. 

Pemberat utama dari subsektor telekomunikasi dan transportasi. Misalnya, PT Indosat Tbk (ISAT) turun 10,78% YTD, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) turun 12,82%, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) turun 23,57% YTD, dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) melemah 3,52% YTD,

“Ini akibat kekhawatiran perlambatan pertumbuhan data dan tekanan capex. Konstruksi BUMN juga masih membebani karena leverage tinggi dan margin tipis,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (16/4/2026).

Ke depan, subsektor telco masih bisa menjadi penopang sepanjang tahun 2026. Gani melihat, subsektor telco masih prospektif karena peningkatan laba di tengah kompetisi yang semakin rasional.

“Sehingga, ruang operator untuk meningkatkan ARPU semakin terbuka,” katanya.

TBS Energi Utama (TOBA) Bagi Dividen US$ 8,8 Juta, Simak Rekomendasi Sahamnya

Gani menyarankan investor mencermati TLKM dan ISAT dengan target harga masing-masing Rp 4.200 per saham dan Rp 2.500 per saham.

Abida melihat, tahun 2026 diprediksi menjadi fase rotasi subsektoral dari saham momentum energi baru terbarukan (EBT) ke saham value dan siklus, seperti telekomunikasi dan jalan tol. 

Sentimen positif berasal dari potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI), monetisasi aset seperti FiberCo ISAT, dan InfraCo TLKM, serta pipeline KPBU sebesar Rp124 triliun. 

Sementara, sentimen negatif berasal dari tekanan anggaran belanja modal alias capital expenditure (capex) di tengah pelemahan rupiah dan outflow asing yang masih berlanjut.

“Subsektor telco tetap menjadi penopang utama dengan katalis price repair dan monetisasi digital, namun lebih moderat dari 2025. JSMR berpotensi menjadi kejutan positif seiring kenaikan tarif kuartal IV 2025 mulai berkontribusi penuh,” ungkapnya.

Abida pun merekomendasikan beli untuk TLKM, ISAT, dan TOWR dengan target harga masing-masing Rp 4.000 per saham, Rp 3.000 per saham, dan Rp 870 per saham.

“JSMR juga bisa sebagai value pick tol dengan katalis tarif baru dan ruas tambahan. Keempat saham itu menawarkan entry point yang jauh lebih atraktif setelah koreksi YTD yang dalam,” tuturnya.