
Ifonti.com – , JAKARTA — Nama Verah Wahyudi S. Wong tiba-tiba muncul dalam jajaran pemegang saham dengan kepemilikan jumbo di PT Lancartama Sejati Tbk. (TAMA), emiten yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan penyewaan ruang.
Mengacu pada data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang diperbarui dan dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) per 9 Maret 2026, Verah yang dikenal sebagai mantan pengendali serta Komisaris Utama PT Remala Abadi Tbk. (DATA) itu terpantau memborong sebanyak 70,62 juta lembar saham TAMA.
Dengan aksi borong saham TAMA tersebut, per 9 Maret 2026 Verah mengempit sebanyak 5,89% saham TAMA. Sementara itu, berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek yang berakhir pada 28 Februari 2026, pemegang saham TAMA di atas 5% adalah PT Lancartama sebanyak 603,97 juta lembar (50,33%), Katrin Widjaja sebanyak 147,28 juta (12,27%), dan sisanya masyarakat sebanyak 448,74 juta lembar (37,4%).
Untuk diketahui, Verah di Remala Abadi tercatat menggenggam sebanyak 551,37 juta lembar saham DATA atau setara dengan kepemilikan 40,1% per 28 Februari 2026.
Adapun, BEI melakukan penghentian sementara atau suspen saham TAMA di pasar reguler dan tunai sejak perdagangan sesi I pada 5 Maret 2026 sampai pengumuman bursa lebih lanjut.
Suspensi itu diberlakukan sebagai bentuk perlindungan kepada investor sejalan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan dan tidak wajar pada saham TAMA.
: Konglomerat TP Rachmat Tiba-Tiba Aktif Lego Jumbo Saham ESSA Maret 2026
Perdagangan saham TAMA sebelumnya sempat disuspensi pada 3 Maret 2026 lalu dan dibuka kembali pada 4 Maret 2026, sebelum akhirnya digembok kembali pada 5 Maret 2026.
Dalam catatan Bisnis, TAMA merupakan perusahaan kontraktor yang bergerak pada sektor properti khususnya perumahan dan komersial sejak 1990. Proyek perseroan umumnya menyebar di Jabodetabek dan Sumatra Selatan. Rata-rata portofolio proyek berupa ruko, perumahan bahkan gedung perkantoran.
Perusahaan konstruksi itu sejatinya sudah berada di pipeline Bursa Efek Indonesia sejak Juli 2019. Namun, baru bisa melenggang pada Februari 2020.
—
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.