
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan pasar valuta asing (forex) pada Rabu (6/5/2026) menunjukkan pergeseran sentimen dari aset safe haven ke aset berisiko, yang mendorong penguatan sejumlah mata uang non-dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Trading Economics pada Rabu (6/5) pukul 15.08 WIB, secara harian EUR/USD naik 0,35% menjadi 1,17, GBP/USD naik 0,41% menjadi 1,35, AUD/USD naik 0,72% menjadi 0,72.
Penguatan mata uang non dolar AS secara harian juga terlihat pada NZD/USD menguat 1,08% menjadi 0,59, USD/JPY menguat 1,06% menjadi 156,20, dan USD/CHF menguat 0,32% menjadi 0,78%.
Rupiah Spot Ditutup Menguat 0,21% ke Rp 17.387 per Dolar AS pada Rabu (6/5)
Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai pergerakan ini merupakan reaksi jangka pendek hingga menengah yang berpotensi menjadi sinyal awal perubahan tren (reversal) terhadap dominasi dolar AS.
“Jika narasi Fed pause bertahan hingga kuartal III-2026 dan deeskalasi konflik di Timur Tengah menjadi permanen, maka tren penguatan USD yang mendominasi sejak awal tahun kemungkinan besar akan berakhir,” ujar Wahyu kepada Kontan, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan, Bank Sentral AS (The Federal Reserve) telah memberikan sinyal penahanan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%.
Kinerja Emiten Properti Masih Tertekan Suku Bunga Tinggi, Simak Rekomendasinya
Seiring inflasi yang mulai melandai, narasi higher for longer pun memudar, sehingga memberi ruang bagi mata uang non-dolar untuk menguat.
Di sisi lain, perkembangan terbaru terkait potensi gencatan senjata dalam konflik Iran turut menekan permintaan dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Menurut Wahyu, pasar saat ini mulai melakukan pricing terhadap kemungkinan tercapainya gencatan senjata pada akhir Mei.
Hal ini menurunkan geopolitical risk premium pada harga minyak dan emas, yang pada akhirnya mengurangi urgensi investor untuk memegang dolar AS.
New Zealand dollar (NZD) menjadi salah satu mata uang yang mencatat penguatan signifikan. Sebagai mata uang dengan imbal hasil tinggi, NZD cenderung sensitif terhadap peningkatan risiko.
“Optimisme deeskalasi global memicu investor kembali melakukan carry trade ke mata uang berbasis komoditas,” kata Wahyu.
Selain itu, yen Jepang (JPY) juga menguat tajam akibat aksi short covering. Investor yang sebelumnya mengambil posisi jual terhadap yen mulai berbalik melakukan pembelian, seiring meredanya premi risiko geopolitik dan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ).
Wahyu memperkirakan, Mei 2026 akan menjadi periode konsolidasi dengan bias pelemahan bagi dolar AS.
Ia menambahkan, euro (EUR) dan poundsterling (GBP) berpotensi menguat moderat seiring membaiknya data manufaktur di Eropa.
Sementara itu, dolar Australia (AUD) dan NZD diperkirakan tetap kuat selama harga komoditas stabil dan sentimen risiko global positif.
Untuk proyeksi, Wahyu memperkirakan EUR/USD berada di kisaran 1,16–1,18, GBP/USD di rentang 1,33–1,38, AUD/USD sekitar 0,74–0,80, NZD/USD di 0,58–0,61, USD/CHF di 0,76–0,79, serta USD/JPY di kisaran 153–158.