Peluang industri daur ulang stainless steel, kapan Indonesia masuk?

Pelaku industri stainless steel mengungkapkan adanya peluang ekonomi sirkular dari produk berbahan baja tahan karat atau stainless steel. Ini artinya, industri ini potensial jadi industri berkelanjutan. Dengan demikian, penambangan terus-menerus nikel untuk membuat produk stainless steel baru bisa diredam.

Chief Representative of Walsin Lihwa di Indonesia, C. S. Hsia menjelaskan bahwa produk stainless steel dapat didaur ulang untuk menjadi produk stainless steel serupa maupun produk lainnya. Walsin Lihwa merupakan grup perusahaan yang bergerak di bidang kawat, kabel, stainless steel, serta investasi teknologi dan teknologi.  

“Idealnya, mendaur ulang nikel dalam baja tahan karat adalah untuk mengolahnya menjadi produk serupa. Memurnikannya hingga mencapai titik di mana Anda dapat membuat nikel untuk baterai, terlalu boros energi,” kata dia dalam diskusi publik di Jakarta, pada Senin (25/5). 

Namun, Associate Principal Energy Shift Institute (ESI) Ahmad Zuhdi D. Kusuma mengatakan, siklus tersebut dapat terbentuk bila industrialisasi nikel terbangun dengan baik. “Kalau pengembangan industrinya terkontrol sejak tahap penambangan, pada suatu kondisi kita tidak akan butuh lagi atau berkurang kebutuhannya untuk mencari feedstock (nikel) baru,” ujar dia. 

Masalahnya, industri nikel di Tanah Air baru mencapai produk setengah jadi. Mayoritas produk ini diekspor ke negara lain untuk diproses menjadi produk jadi. Sekitar enam dari sepuluh ton nikel yang masuk ke rantai pasok global berasal dari Indonesia. 

“Saat ini, kita mengekspor sebagian besar baja tahan karat dan mengimpornya dalam bentuk peralatan dapur, keran, dan perlengkapan logam yang terbuat dari bahan tersebut,” ucap dia. Problem yang sama juga ditemukan pada produk mineral lainnya. 

Laporan ESI bertajuk ‘Dominance without Depth: The Smelting Superpower that Imports its own Metal’ mengungkap, struktur industri hilirisasi nikel masih terkonsentrasi di level hulu, seperti peleburan dan produksi baja dasar. Fasilitas pemrosesan berhenti pada produksi lempengan baja.

Padahal, menurut perhitungan ESI, manfaat ekonomi industri lanjutan jauh lebih besar. Sebagai perbandingan, ESI memperkirakan, investasi senilai US$1,5 miliar di satu smelter biasanya menyerap 3.000 sampai 5.000 pekerja. Sedangkan jika dana yang sama dialirkan untuk industri atau manufaktur tahap lanjut, berpotensi menciptakan 15.000 sampai 20.000 pekerja. 

ESI merekomendasikan kepada pemerintah beberapa kebijakan agar hilirisasi nikel di dalam negeri bisa mencapai produk akhir stainless steel. Pertama, restrukturisasi insentif fiskal untuk menjangkau industri manufaktur lanjutan. Kedua, mengubah kawasan industri menjadi pusat pengembangan rantai pasok domestik dan UMKM. Kemudian, membangun perusahaan nasional dan ekosistem riset untuk mendukung transfer teknologi dan inovasi dalam negeri.