Pemangkasan Bunga The Fed Berpeluang Lanjut pada Akhir 2026, Ini Syaratnya

Ifonti.com , JAKARTA — Presiden Federal Reserve Bank of Philadelphia Anna Paulson menyatakan pemangkasan suku bunga tambahan dalam skala moderat masih berpeluang dilakukan pada paruh akhir 2026, dengan catatan prospek ekonomi tetap kondusif.

“Saya melihat inflasi terus mereda, pasar tenaga kerja mulai stabil, dan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 2% tahun ini,” ujar Paulson dalam naskah pidato yang dijadwalkan disampaikannya pada Sabtu dalam pertemuan tahunan American Economic Association di Philadelphia. 

Menurutnya, jika semua hal tersebut terwujud, maka penyesuaian lanjutan yang moderat terhadap suku bunga acuan kemungkinan tepat dilakukan pada akhir tahun.

: Jadwal Rapat FOMC The Fed 2026, Acuan Pasar Keuangan dan Arah Dolar AS

Paulson menilai risiko terhadap pasar tenaga kerja masih relatif tinggi, terutama karena perlambatan permintaan tenaga kerja berlangsung lebih cepat dibandingkan penurunan pasokan tenaga kerja akibat pengetatan kebijakan imigrasi oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.

Meski demikian, klaim asuransi pengangguran menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. “Pasar tenaga kerja memang melunak, tetapi belum menunjukkan tanda-tanda keretakan,” ujarnya.

: : Risalah The Fed Akhir 2025 Ungkap Adanya Perpecahan Pendapat soal Suku Bunga

Kendati The Fed telah memangkas suku bunga dalam beberapa kesempatan terakhir, Paulson memperkirakan kebijakan moneter saat ini masih bersifat sedikit ketat, sehingga tetap memberikan tekanan ke bawah terhadap inflasi.

“Kombinasi dari kebijakan moneter masa lalu dan saat ini yang masih restriktif akan membantu menurunkan inflasi hingga mencapai target 2% The Fed,” katanya.

: : Kapan Bos Baru The Fed Pengganti Jerome Powell Diumumkan? Begini Kata Trump

Paulson mengakui dampak tarif terhadap harga barang kemungkinan akan menjaga inflasi tetap tinggi pada paruh pertama 2026. Namun, dia memperkirakan inflasi barang akan kembali melandai dan sejalan dengan target 2% pada paruh kedua tahun depan.

Di sisi lain, para pejabat The Fed masih terbelah mengenai seberapa jauh suku bunga perlu diturunkan tahun ini, setelah memangkas total 75 basis poin dalam tiga pertemuan terakhir. Semakin banyak pejabat yang cenderung memilih menahan suku bunga setidaknya hingga tersedia data inflasi dan ketenagakerjaan yang lebih jelas.

Dalam proyeksi kebijakan 2026, median perkiraan pembuat kebijakan menunjukkan satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Sementara itu, pelaku pasar memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan.

Prospek Menantang

Para pembuat kebijakan menghadapi prospek ekonomi yang menantang. Tingkat pengangguran AS naik ke level tertinggi dalam empat tahun di angka 4,6% pada November, sementara inflasi inti menunjukkan perbaikan. Data pertumbuhan juga mengejutkan, dengan ekonomi AS tumbuh 4,3% secara tahunan pada kuartal III/2025.

Namun, Paulson mengatakan penutupan pemerintah federal (government shutdown) baru-baru ini serta dampaknya terhadap pengumpulan data menyulitkan interpretasi kondisi ekonomi. 

Prospek yang dia sampaikan, yang tidak sepenuhnya mencerminkan data pengangguran terbaru, menunjukkan optimisme yang berhati-hati terhadap inflasi serta kebutuhan akan kejelasan lebih lanjut terkait faktor yang mendorong pertumbuhan meningkat sementara ketenagakerjaan melemah.

Paulson kembali menyinggung peluang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memicu lonjakan produktivitas yang signifikan. Dalam skenario tersebut, The Fed tidak perlu terlalu khawatir bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi akan memicu inflasi. 

Namun, dia menegaskan para pembuat kebijakan tidak akan langsung mengetahui secara real time apakah pertumbuhan tersebut benar-benar didorong oleh peningkatan produktivitas.

Sebelumnya, Paulson juga mempresentasikan sebuah esai yang ditulis bersama, yang menekankan pentingnya kredibilitas bank sentral dalam meredam lonjakan inflasi. 

“Pengalaman inflasi selama lima tahun terakhir tampaknya tidak meninggalkan dampak jangka panjang terhadap ekspektasi inflasi,” tulis esai tersebut.